Akhir pekan yang seharusnya tenang berubah jadi mimpi buruk buat pemegang kripto. Dalam hitungan jam, sekitar $253 juta posisi leverage lenyap ter-likuidasi saat pasar panik menyerap satu kabar yang membelah dunia: Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup sampai stabilitas pulih, sementara Amerika Serikat bersikeras jalur itu tetap terbuka untuk semua kapal.
Dua klaim yang saling bertabrakan itu beredar nyaris bersamaan, tepat setelah serangan udara balas-membalas AS-Iran kembali pecah menjelang 13 Juli 2026 dan mematahkan gencatan senjata yang sudah rapuh. Pasar global langsung masuk mode risk-off, dan kripto jadi salah satu yang paling cepat kena getahnya.
Bitcoin Goyah, Altcoin Lebih Babak Belur
Bitcoin tergelincir dari $64.300 di penutupan mingguan ke sekitar $63.000, sempat menyentuh titik terendah lokal di kisaran $62.500-62.900. Penurunannya cuma sekitar 1% - terlihat ringan di permukaan, tapi cukup untuk memicu efek domino di pasar derivatif. Altcoin menanggung pukulan lebih keras: token Lighter (LIT) anjlok 8%, penurunan besar pertamanya setelah reli lebih dari 200% dalam dua bulan terakhir.
Di pasar tradisional gejolaknya bahkan lebih ganas. Indeks Kospi Korea Selatan ambruk 9,2%, saham SK Hynix yang baru IPO di AS pekan lalu longsor 15%, sementara Nikkei Jepang dan indeks SSE China sama-sama turun lebih dari 2%. Futures Nasdaq 100 dan S&P 500 pun diindikasikan dibuka melemah. Harga minyak jadi barometer ketakutan: Brent melonjak lebih dari 4,5% saat pembukaan Senin, sementara WTI melesat hampir 12% dari level terendah Juli ke sekitar $75 per barel - langsung mencerminkan kekhawatiran gangguan di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Sinyal Aneh di Tengah Kepanikan
Yang membuat longsor ini tak sesederhana kelihatannya: di saat harga tertekan, ETF Bitcoin dan Ether spot justru baru saja memutus rentetan delapan minggu arus keluar dana. Artinya, permintaan institusional tetap bertahan meski retail panik. Yield obligasi AS tenor dua tahun melonjak di atas 2,35%, tertinggi dalam 16 bulan, menambah tekanan ke aset berisiko. RSI harian Bitcoin ada di sekitar 38 - lemah, tapi belum menunjukkan sinyal pembalikan yang jelas.
📌 Baca JugaBank Wall Street Ini Kini Jual Bitcoin, Ethereum, dan Solana Langsung ke Nasabah Ritel - dan Itu Baru Permulaan
Sebagian analis malah melihat secercah harapan. Ryker dan Jelle berargumen death cross SMA 50-week dan 100-week yang baru terjadi justru secara historis menandai fase akhir bear market - pola serupa muncul September 2022, tak lama sebelum dasar bear market waktu itu. Spekulasi pun beredar bahwa bull market baru bisa dimulai sekitar September 2026. Tapi tak semua sepakat: Snyder menilai Bitcoin masih mungkin turun ke bawah $57.800, dan justru menyebut skenario itu sebagai yang paling sehat.
Yang Menentukan Arah Berikutnya
Mata trader kini tertuju ke dua data inflasi AS: CPI hari Selasa dan PPI hari Rabu, yang akan jadi katalis arah pasar sebelum rapat kebijakan The Fed di akhir Juli. Untuk sekarang, kripto terjebak di antara dua kekuatan - geopolitik yang bisa memburuk kapan saja, dan data ekonomi yang bisa menenangkan atau justru memperparah. Pemegang aset yang bertahan lewat akhir pekan ini setidaknya tahu satu hal pasti: volatilitas belum selesai, dan kabar dari Timur Tengah masih jadi kartu liar yang paling sulit ditebak.
Dilansir dari CoinDesk.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




