Saham preferen SATA milik Strive baru saja pulih hampir 16% dari titik terendah pada Juni lalu. Harga saham ini kini diperdagangkan di sekitar level $97, menyisakan jarak tipis 3% dari nilai par aslinya di angka $100. Padahal sebelumnya, harga SATA sempat jatuh ke posisi $83,30 sebelum kembali merangkak naik. CEO Jan3, Samson Mow, menilai tren pemulihan ini bisa menyeret saham STRC milik Strategy untuk ikut naik menembus titik par $100.
Saat ini STRC masih terpaku 13% di bawah nilai par, berlabuh di harga $87 pada penutupan perdagangan 24 Juli. Angka ini membelah rentang 52 minggu yang tercatat antara $71,25 hingga $100,42. Strategy sendiri membuat langkah besar dengan menjual 3.588 BTC senilai $216 juta pada 6 Juli lalu, khusus untuk mendanai pembagian dividen saham kredit digital mereka. Meski melego ribuan keping, entitas ini tetap menduduki puncak penguasaan. Mereka memegang 843.775 BTC sebagai cadangan aset perusahaan terbesar di dunia, sementara Strive mengekor di peringkat ketujuh dengan tabungan 19.921 BTC.
Siapa yang Memborong STRC?
Arus kepemilikan saham STRC perlahan bergeser ke tangan institusi. Sepanjang bulan Maret sampai Juli, rata-rata posisi manajer dana di STRC melonjak 105%, naik dua lipat dari $1,7 juta menjadi $3,5 juta. Masuknya uang institusi ini membuat porsi kepemilikan pemodal ritel tergerus dari 78% turun ke 71% dalam bingkai waktu yang sama.
Laju modal dari kalangan institusi menempatkan STRC pada posisi istimewa. Saham ini sekarang menjadi holding terbesar di dalam tiga ETF preferen besar Amerika Serikat. Tiga dana investasi itu meliputi BlackRock iShares PFF, Virtus InfraCap PFFA, dan VanEck PFXF. Kalau dijumlahkan, ketiga portofolio ETF Wall Street ini memegang saham STRC dengan total angka $756 juta.
Taktik Selisih Harga Wall Street
Banjirnya dana masuk ini tidak mutlak membuktikan tingginya kepercayaan institusi pada fundamental bisnis Strategy. Peter Schiff memandang rentetan pembelian itu bisa jadi murni praktik spread trade. Artinya, manajer investasi mengambil posisi beli atau long pada STRC sambil menempatkan posisi jual pada saham MSTR demi mengeruk margin keuntungan dari selisih harganya. Praktik ini menegaskan motif mereka tidak didasari oleh niat taruhan bullish murni.
📌 Baca JugaTiga ETF Wall Street Timbun Saham STRC $756 Juta - Padahal Strategy Baru Jual Bitcoin Demi Dividen
Sistem cadangan di ekosistem kripto juga terus kedatangan pemain dengan format baru. Samson Mow menyebut Orange Juice, entitas treasury bentukan Lyn Alden yang baru meluncur pada 15 Juli lalu, sebagai gambaran pemain baru dengan konsep pengelolaan yang sama sekali berbeda dari para raksasa yang sudah mendominasi.
Sikap agresif uang institusi masuk ke ETF Wall Street menjadi bukti makin larisnya aset korporasi digital. Namun masuknya pemain konvensional ini lebih dilatarbelakangi perburuan margin dari celah selisih harga. Kepentingan Wall Street murni mencari ruang keuntungan kilat yang masih tersedia. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




