Data DefiLlama merekam nilai pasar tokenisasi aset dunia nyata (RWA) on-chain menyentuh angka $34,6 miliar, sekaligus mengungkap celah lebar antara jumlah koin yang terbit dengan fungsinya di lapangan. Dari total pasokan itu, hanya $3,79 miliar atau sekitar 11% yang benar-benar aktif mengalir di dalam protokol DeFi. Sisa 89% nilai lainnya terpaku diam dan menganggur.
Ketimpangan pemakaian ini terlihat pada produk institusional skala atas. Token BlackRock BUIDL mencatat tingkat pemakaian hanya 0,64% di DeFi. Franklin Templeton BENJI bahkan duduk di angka 0%, lalu diikuti token Circle USYC pada tingkat 0,52%.
Beda Desain, Beda Pemanfaatan
Kondisi berbalik tajam saat melihat aset yang dari awal dirancang khusus sebagai kolateral. Produk kategori ini menunjukkan volume pemakaian mendekati kapasitas penuh. Centrifuge JAAA memimpin dengan tingkat utilisasi 97,97%, disusul ketat oleh Re Protocol reUSD pada 97,87%, dan Maple Finance SyrupUSDT dengan catatan pemakaian 88,84%.
Artem Tolkachev, Chief RWA Officer Falcon Finance, menilai utilitas rendah bukan penanda otomatis produk itu lemah. Tolkachev menyebut reksa dana pasar uang (money market fund) yang ditahan investor untuk mendapat yield dan bisa dicairkan tepat waktu sudah menjalankan tugasnya, meski tingkat utilisasinya di DeFi berada di angka nol. Ia menambahkan masalah baru muncul jika sebuah produk sengaja dibangun untuk dipinjamkan, tetapi tetap sepi peminat setelah peluncuran.
Penghalang di Mekanisme Harga
Akar dari lambatnya penerimaan aset tradisional di DeFi ada pada infrastruktur data. Laporan RedStone menekankan bahwa protokol pinjaman (lending protocol) kesulitan menerima RWA karena instrumen konvensional tidak punya aliran harga yang mengalir terus-menerus. Obligasi Amerika Serikat, reksa dana pasar uang, dan kredit korporat tidak memiliki grafik pergerakan harga 24 jam sehari layaknya Bitcoin atau Ethereum.
Falcon Finance menerapkan sistem penyaringan berlapis sebelum menyetujui sebuah RWA sebagai agunan. Mereka memberlakukan lima tahap uji, mulai dari verifikasi klaim legal pemegang token, analisis syarat pencairan (redemption), dan kedalaman likuiditas pasar sekunder. Mereka juga menguji ketahanan umpan harga (price feed) dari manipulasi, serta kelayakan kualitas kredit di balik entitas penerbit.
๐ Baca JugaTectonic Kebobolan $75 Juta Lewat Manipulasi 20 Menit - Tapi Penyedia Oracle Tegaskan Sistem Mereka Tidak Rusak
Celah risiko ditutup dengan pemotongan batas pinjaman. Falcon menetapkan tarif potongan nilai (haircut) lebih besar saat sebuah aset memiliki likuiditas tipis atau terikat pada pasar konvensional yang memiliki jam tutup lama. Pada akhirnya, menaruh aset tradisional ke atas blockchain tidak lantas mengubah sifat dasarnya; penyedia likuiditas tetap terikat pada hukum pasar asal dan batasan desain koin itu sendiri.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




