Pendiri Cardano Charles Hoskinson terbuka mendebat pernyataan co-founder Ethereum Vitalik Buterin mengenai potensi kecerdasan buatan (AI) menjebol sistem kriptografi pasca-kuantum. Silang pendapat bermula saat Buterin menyebarkan peringatan bahwa AI dapat mempercepat berbagai penemuan matematika krusial. Buterin meyakini akselerasi penemuan matematika ini bisa memecahkan pertahanan kriptografi berbasis lattice (lattice-based cryptography), yang selama ini menjadi andalan dari ancaman komputasi generasi baru.
Sebagai langkah mengantisipasi kemampuan mesin komputasi, Buterin menyodorkan satu solusi teknis: memperbesar ukuran kunci kriptografi hingga sepuluh kali lipat dari standar sekarang. Hoskinson menolak argumen itu dan langsung menganulir analogi pemfaktoran bilangan bulat yang diajukan oleh Vitalik. Hoskinson menilai usulan melipatgandakan ukuran kunci 10 kali lipat tanpa menunjukkan dasar serangan yang konkret tidak lebih dari sekadar “numerologi”, bukan pendekatan sains komputer yang kokoh.
Ujian Empat Dekade dari NIST
Sistem kriptografi lattice tidak lahir dalam hitungan bulan atau tahun. Hoskinson memaparkan fakta bahwa riset pada bidang ini terus berjalan sejak algoritma reduksi kisi LLL pertama kali diperkenalkan pada 1982. Selama lebih dari empat dekade, sistem pertahanan ini telah melewati puluhan tahun pengujian intensif dari para ahli dan peneliti di seluruh dunia.
Rangkaian pengujian panjang itu bermuara pada pengesahan standar algoritma keamanan ML-KEM dan ML-DSA. National Institute of Standards and Technology (NIST) Amerika Serikat resmi mengesahkan standar ini pada Agustus 2024 di bawah dokumen FIPS 203 dan FIPS 204. Pengesahan dari badan federal AS ini turun setelah algoritma melewati masa evaluasi publik bertahun-tahun guna memastikan ketahanannya dari berbagai model peretasan teoretis maupun praktis.
Kelemahan Hash Ethereum
Serangan balik Hoskinson turut menyorot fungsi hash yang selama ini diunggulkan oleh kubu Ethereum, seperti WOTS. Hoskinson mengingatkan para pengembang jaringan bahwa fungsi hash yang diagungkan Ethereum pun tidak memiliki kekebalan mutlak dari risiko peretasan tingkat tinggi.
Merujuk pada rekam jejak historis, ia mengingatkan kembali soal kerentanan algoritma populer masa lalu seperti MD5 dan SHA-1 yang pada akhirnya runtuh lalu ditinggalkan oleh industri teknologi. Algoritma SHA-256 yang menopang mayoritas jaringan blockchain saat ini pun aman semata-mata karena belum ada penyerang yang memecahkannya. Bagi para pemegang aset kripto, debat dua tokoh pendiri proyek ini memperlihatkan satu realitas keras: ketahanan sistem selalu bergantung pada waktu, dan sekadar menambah panjang deret angka di baris kode belum tentu menjawab akar masalah keamanan di masa mendatang.
๐ Baca JugaPendapatan Tahunan Pyth Meroket ke $11,5 Juta - Kini Semua Uang Itu Resmi Dipakai Memborong Token Sendiri
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




