Sebuah RUU yang bisa menentukan masa depan regulasi kripto Amerika Serikat baru saja mendapat amunisi politik penting - tapi di saat bersamaan kehilangan salah satu tokoh kuncinya. Federal Law Enforcement Officers Association (FLEOA), organisasi yang mewakili lebih dari 34.000 petugas federal aktif dan pensiunan dari lebih 65 lembaga, resmi mendukung Digital Asset Market Clarity Act (H.R. 3633) lewat surat ke Senate Banking Committee tertanggal 10 Juli 2026.
Ini adalah dukungan kedua dari kelompok penegak hukum besar, menyusul National Organization of Black Law Enforcement Executives (NOBLE) yang lebih dulu mendukung awal Juli. Dua dukungan ini penting: keduanya membantu mematahkan argumen bahwa CLARITY Act justru akan melemahkan kemampuan pemerintah memberantas kejahatan kripto.
Dukungan yang Datang dengan Syarat
FLEOA menyebut RUU ini ‘represents meaningful progress’, namun tetap menitipkan sejumlah revisi. Mereka meminta aturan akuntabilitas yang lebih jelas di sektor DeFi, larangan agar perusahaan tidak bisa berkedok layanan ‘terdesentralisasi’ untuk lolos dari regulasi, penggantian standar pembuktian ‘specific intent’ dengan ‘existing knowledge’, serta penegasan bahwa RUU ini tidak memangkas wewenang investigasi federal yang sudah ada - mulai kasus kriminal, anti-pencucian uang, sanksi, hingga pendanaan kontra-terorisme.
Ji Kim, CEO Crypto Council for Innovation, menilai dukungan FLEOA membuktikan RUU ini kuat baik di sisi perlindungan konsumen maupun penegakan hukum. National President FLEOA, Mathew Silverman, menegaskan petugas butuh perangkat memadai untuk menyelidiki kejahatan finansial yang makin kompleks. Sebelumnya, sejumlah kelompok penegak hukum sempat mengkhawatirkan Pasal 604 - pasal yang melindungi sebagian pengembang software dan penyedia layanan non-custodial dari status ‘money transmitter’ selama mereka tidak mengendalikan dana pelanggan. Namun Departemen Kehakiman AS (DOJ) membantah sebagian kekhawatiran itu sebagai tidak akurat, dan Major County Sheriffs of America bahkan bergeser dari menolak menjadi netral setelah diskusi lanjutan.
Tenggat Mepet, Arsitek Utama Malah Pergi
Momentum ini muncul di tengah tenggat yang mepet. Jadwal resmi Senat menempatkan reses Agustus mulai 10 Agustus hingga 11 September, sehingga 7 Agustus menjadi hari sidang terakhir sebelum reses - dan hingga 14 Juli, jadwal voting resmi untuk CLARITY Act belum tercantum di kalender Senat. Senator Cynthia Lummis bahkan menyebut (8 Juli) ini kemungkinan ‘kesempatan terakhir’ mendapatkan legislasi aset digital yang nyata sebelum 2030, sembari memperingatkan negara lain bisa lebih dulu menetapkan aturan jika Kongres gagal bertindak.
📌 Baca JugaRegulator yang Bakal Mengawasi Kripto $2,2 Triliun Ini Cuma Punya Satu Orang di Kursinya - dan Anehnya Malah Makin Gesit
Ironisnya, di saat butuh dorongan penuh, salah satu tokoh utama Gedung Putih justru akan mundur sementara. Patrick Witt - direktur eksekutif President’s Council of Advisors for Digital Assets dan penegosiasi poin-poin krusial CLARITY Act, termasuk soal yield stablecoin dan ketentuan etika - akan mengambil cuti akhir Juli untuk menjalani pelatihan militer selama beberapa bulan. Witt dijadwalkan menuntaskan tugasnya pada 24 Juli sebelum melapor untuk pelatihan Judge Advocate General (JAG) bersama Georgia Army National Guard. Cody Carbone, CEO Digital Chamber, menegaskan Witt sudah terbuka soal rencana ini sejak awal. Selama Witt cuti, wakil direktur Harry Jung akan mengambil alih, meski menurut sumber yang berbicara ke Crypto In America, Witt tetap berencana terlibat dari jarak jauh selama masa pelatihan.
Pertanyaannya kini soal timing: apakah dukungan dua kelompok penegak hukum cukup mendorong CLARITY Act melewati garis akhir sebelum reses Agustus, justru ketika salah satu perundingnya yang paling paham detail RUU sedang tak berada di meja? Beberapa pekan ke depan akan jadi ujian nyata seberapa matang regulasi kripto Amerika sesungguhnya.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




