Tiga puluh sembilan asosiasi perbankan tingkat negara bagian di Amerika Serikat mengumumkan pembentukan BankChain Alliance pada hari Selasa lalu. Organisasi anyar itu mematok target untuk meluncurkan sebuah jaringan blockchain bersama khusus untuk melayani bank komunitas dan bank regional selambatnya pada tahun 2027.
Jaringan baru rancangan aliansi akan difokuskan untuk menangani berbagai layanan digital mutakhir, mulai dari penerbitan deposito tertokenisasi, pembuatan stablecoin, eksekusi pembayaran terprogram, sampai dengan sistem penyelesaian transaksi otomatis. Inisiatif lintas perbatasan negara bagian itu dipimpin langsung oleh Kathy Kraninger. Mantan Ketua Biro Perlindungan Keuangan Konsumen (CFPB) yang saat ini menjabat sebagai CEO Asosiasi Bankir Florida mendapat mandat merangkap sebagai Ketua Interim BankChain Alliance.
Dukungan awal bagi konsorsium datang dari wilayah yang luas. Daftar asosiasi perbankan yang ikut menyokong rencana awal mencakup perwakilan dari Texas, Florida, Georgia, Carolina, Pennsylvania, Massachusetts, Michigan, Wisconsin, Washington, Oregon, Maine, Vermont, Hawaii, Idaho, Dakota Utara, Dakota Selatan, Wyoming, hingga Ohio.
Rencana Ambisius Tanpa Rincian Jelas
Meski tenggat waktu peluncuran dipatok tayang dua tahun lagi, pengumuman proyek baru sama sekali belum memuat rincian kelengkapan operasional. Sampai hari deklarasinya, BankChain Alliance belum menunjuk penyedia teknologi untuk menggarap sistem mereka. Aliansi belum memilih landasan blockchain, belum menetapkan model tata kelola organisasi, dan yang paling krusial, belum menyebutkan satu nama pun perihal bank yang bersedia mendaftar sebagai peserta awal.
Pihak pembentuk aliansi menyertakan klaim bahwa seluruh jaringan kelak murni dimiliki oleh pihak bank pesertanya. Penjelasan lanjutan mengenai kemampuan interoperabilitas antarsistem maupun kemungkinan pengembangan di atas jaringan publik utama seperti Ethereum, Solana, atau XRP belum diungkap ke publik.
Merespons Langkah Cepat Wall Street
Manuver puluhan asosiasi perbankan menanggapi langkah bank-bank besar yang lebih dulu merintis inovasi di ruang tokenisasi aset. Sepanjang satu tahun terakhir, daftar kompetitor layanan tokenisasi deposito terus bertambah. Kolaborasi antara Custodia dan Vantage Bank Texas mengawali langkah saat mereka meresmikan platform deposito tertokenisasi bersama pada bulan Oktober 2025.
Sebulan berselang, JPMorgan merilis layanan JPMD yang dibangun menggunakan jaringan lapis kedua Base pada November 2025. Kompetisi bertambah ketat saat BNY mengumumkan kehadiran platform deposito tertokenisasi berformat privat pada Januari 2026, yang kemudian disusul oleh kesuksesan jaringan SWIFT merampungkan uji coba transfer deposito tertokenisasi dengan melibatkan 17 bank global pada bulan Juli 2026.
๐ Baca JugaGalaxy Buka Pinjaman Dolar Beragunan Kripto Ritel - Tawarkan Bunga 8,99% Tanpa Risiko Dipinjamkan Ulang
Upaya Hindari Monopoli Pesaing
Membangun infrastruktur dari tahap nol adalah keputusan berat dan butuh waktu lama bagi kelompok asosiasi perbankan. Namun bagi kalangan bank tingkat regional maupun komunitas, memakai platform produk JPMorgan atau BNY memunculkan risiko lain. BankChain Alliance membuka opsi jalan tengah supaya perbankan skala kecil tidak berakhir menjadi klien tetap bagi pesaing terbesar mereka sendiri.
Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




