Ekosistem open-source Bitcoin baru saja melewati pemindaian massal, dan hasilnya memaksa banyak pengembang meninjau ulang kode mereka. Bitcoin Red Team, kelompok relawan yang memadukan kecerdasan buatan dan tinjauan manusia, melaporkan temuan 4.962 celah keamanan yang tersebar di 390 proyek berbeda per Agustus 2026. Dari ribuan temuan itu, 85 diklasifikasikan sebagai kerentanan kritis, sementara 635 lainnya masuk kategori risiko tinggi.
Ketua tim yang menggunakan nama samaran Calle di platform X menyatakan terbuka, “semuanya rusak, Bitcoin terbakar”. Ia menegaskan kondisi ini bukan akhir dunia, melainkan momen bersih-bersih yang justru akan membuat jaringan Bitcoin lebih kuat. Mesin utama di balik pemindaian besar-besaran ini adalah Kimi K3, model AI dari Moonshot AI asal China. Berbeda dengan model komersial biasa, Kimi K3 bisa diunduh dan dijalankan sendiri di server lokal. Kemampuannya menelaah basis kode dalam jumlah masif memungkinkan tim menyelesaikan tugas panjang nyaris tanpa pengawasan manusia. Para pengembang inti telah mengonfirmasi temuan ini dan mengakui keberadaan deretan kerentanan kritis yang nyata di sistem mereka.
Ujian Berat di Lightning Network
Hingga saat ini, rincian proyek mana saja yang terdampak masih disimpan rapat dan belum diungkap ke publik demi mencegah eksploitasi. Namun, Calle memberi petunjuk spesifik: Lightning Network berada dalam kondisi “lebih rusak dari rata-rata”. Kompleksitas teknis di lapisan kedua Bitcoin ini membuatnya rentan menumpuk masalah yang sulit terendus oleh audit kode tradisional. Untuk mencegah kerusakan berlanjut, semua temuan diserahkan langsung kepada para pengembang proyek lewat jalur privat agar ditambal sebelum detailnya dilepas bebas.
Melihat skala masalah ini, Calle mendesak pengembang proyek kripto untuk berhenti mengandalkan kode dari repositori usang yang tak lagi terawat. Ia menyarankan tim pengembang segera membangun jalur audit mandiri berbasis AI di dapur mereka masing-masing. Menurutnya, proyek yang sudah memulai audit AI berbulan-bulan lalu kini memiliki daya tahan yang jauh lebih tangguh dibanding mereka yang belum mulai.
Kenapa Mengandalkan AI China?
Pemilihan model AI buatan China dalam operasi ini bukan sekadar selera, melainkan jalan keluar dari batasan teknis. Selain Kimi K3, Bitcoin Red Team menguji model GLM 5.2 dari Z.ai (China), serta produk dari OpenAI dan Anthropic. Kenyataannya, model komersial buatan Amerika Serikat sering menolak menyelesaikan tugas audit. Filter keselamatan dari pabrikan AS justru menganggap permintaan pemindaian kerentanan sebagai aktivitas mencurigakan, membuat Calle mengeluhkan timnya terhambat oleh “sistem siber OpenAI lagi”.
๐ Baca JugaCEO Delio Divonis 15 Tahun Penjara Buntut Lisensi Palsu - Angka Kerugian Ungkap Celah Hukum
Kebuntuan ini punya preseden. Pada Juli 2026, platform repositori AI Hugging Face terpaksa beralih menggunakan GLM 5.2 buatan China untuk menginvestigasi peretasan sistem mereka. Insiden itu dipicu oleh peretasan yang dilakukan via model OpenAI, tapi anehnya model komersial asal AS lainnya justru menolak perintah untuk menganalisis log serangan tersebut. Ketika audit keamanan serius membutuhkan model tanpa sensor yang menghalangi penyelidikan, para periset kini tahu ke mana mereka harus mencari alat bantu.
Pertahanan dunia kripto perlahan menuntut alat yang bisa dikendalikan penuh di server sendiri, terlepas dari campur tangan perusahaan teknologi korporat. Dilansir dari Decrypt.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




