Para pengembang inti Ethereum resmi membuang fungsi hash Poseidon dari rancangan arsitektur anti-kuantum mereka. Sebagai gantinya, jaringan ini memilih mundur selangkah dan menengok kembali nama mapan yang sudah teruji, seperti algoritma SHA atau BLAKE. Peneliti Ethereum Foundation, Justin Drake, membagikan pengumuman pergeseran haluan ini pada Kamis, 14 Agustus 2026.
Peralihan ini tidak dilatari oleh kecacatan kode, tapi ironisnya didorong oleh inovasi jaringan itu sendiri. Kemajuan pesat dalam teknologi SNARKs - sistem pembuktian kriptografi yang ringkas - perlahan menghapus seluruh keunggulan performa yang membuat Poseidon awalnya dilirik. Sebelumnya, Poseidon menjadi kandidat utama untuk menopang leanVM, sebuah infrastruktur kunci yang dirancang agar Ethereum mampu memverifikasi volume raksasa aktivitas blockchain dengan efisien.
Perombakan teknis ini belum akan menyentuh jaringan utama atau mainnet Ethereum dalam waktu dekat. Seluruh tahapan perancangan ini masih berstatus perencanaan jangka panjang, meneruskan garis besar peta jalan pertahanan kuantum racikan Vitalik Buterin. Jika ditaati, infrastruktur leanVM baru akan memasuki fase siap produksi pada tahun 2027. Satu tahun setelahnya, tepatnya pada 2028, barulah sistem ini disuntikkan ke dalam tiga lapisan krusial jaringan - konsensus, data, dan eksekusi - walau kalender peluncuran ini masih berstatus tentatif.
Kenapa Mundur ke Standar Lama
Kembali ke fungsi hash konvensional membawa satu aset tak ternilai: rekam jejak yang terbukti. CEO Eigen Labs, Sreeram Kannan, mencatat bahwa sistem yang dibangun di atas fungsi hash mapan memiliki jumlah celah serangan tersembunyi yang jauh lebih sedikit dibandingkan pendekatan post-quantum alternatif. Karena standar seperti SHA dan BLAKE sudah diuji dan diaudit bertahun-tahun oleh industri kriptografi global, implementasinya bisa dieksekusi lebih cepat tanpa meraba-raba risiko baru.
Ini menjadi garis pemisah yang tajam jika disandingkan dengan Poseidon. Walau menawarkan efisiensi tinggi di atas kertas, Poseidon adalah standar yang masih seumur jagung. Menggantungkan nasib miliaran dolar nilai transaksi harian pada algoritma baru yang belum melewati ujian peretas dunia nyata dinilai sebagai pertaruhan buta. Apalagi, arsitektur post-quantum menuntut fondasi tebal yang nol toleransi terhadap celah eksploitasi.
Bukti dari kolaborasi lintas entitas menunjukkan langkah konservatif ini membuahkan hasil nyata. Kannan mengungkap kerja sama antara Ethereum Foundation, perusahaannya, dan penyedia ZK proof Succinct kini mencatat kecepatan pembuktian 2,5 kali lipat. Efisiensi tak terduga ini tercapai justru karena para peneliti mengoptimalkan fungsi yang sudah ada, bukan membuat yang baru.
๐ Baca JugaBitmine Kunci 5 Juta ETH di Jaringan - Saat Bunga $257 Juta Setahun Jadi Sabuk Pengaman Raksasa Kripto
Pragmatisme di Tengah Ancaman Kuantum
Bagi mayoritas pengguna, fungsi hash yang bergerak di latar belakang mungkin tidak pernah terlihat di layar dompet kripto. Tapi bagi para peneliti yang menanggung beban keamanan aset pengguna, pergeseran dari Poseidon ke SHA dan BLAKE adalah sinyal pragmatisme yang berani. Menjelang era komputer kuantum masa depan yang mampu menembus keamanan kriptografi standar, memakai senjata usang yang tak bisa patah jauh lebih masuk akal ketimbang memaksakan pedang baru yang belum diuji coba di medan perang yang sesungguhnya.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Cara Kerja Staking Kripto dan Risikonya
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




