Lebih dari 34% total pasokan Bitcoin dunia bersarang di alamat yang rentan diretas oleh komputer kuantum. Angka ini adalah bom waktu menuju Q-Day, titik kritis saat mesin komputasi masa depan mampu meretas kunci privat langsung dari kunci publik berbekal algoritma Shor cetusan 1994.
Kini jalan keluar itu datang dari spesifikasi perangkat keras biasa. Project Eleven, bekerja sama dengan pengembang utama sistem Binius Jim Posen, baru saja merilis pembuktian zero-knowledge. Sistem ini berjalan dalam 243 milidetik dengan waktu verifikasi 40 milidetik di atas laptop MacBook Air M5 bermemori 2GB - tanpa mengandalkan kekuatan GPU. Pemilik dompet kini bisa mengonfirmasi kepemilikan melalui jalur derivasi kunci murni tanpa pernah mengekspos kunci utamanya ke jaringan.
Mengubah Debat Pembekuan Jaringan
Sistem baru ini adalah jawaban atas ketegangan di tubuh pengembang inti Bitcoin. April lalu, Jameson Lopp bersama lima penulis pendamping merilis proposal BIP-361. Isinya drastis: blokir semua deposit baru ke alamat rentan kuantum dalam tiga tahun ke depan, lalu bekukan sisa dananya setelah lima tahun. Lopp sendiri mengaku terang-terangan tidak menyukai proposal rancangannya itu. Ia menyusunnya murni karena membiarkan jaringan jebol akibat peretasan massal adalah pilihan yang jauh lebih buruk.
Solusi zero-knowledge seketika membalik arah perdebatan. Dengan metode verifikasi tanpa risiko ini, skenario pembekuan dana bukan lagi berarti koin itu hangus dibakar selamanya. Dana yang dibekukan berubah statusnya menjadi aset terkunci, dan kuncinya tetap dipegang utuh oleh pemilik asli. Meski menjanjikan, batasan teknis awal masih kentara. Prototipe ini belum melewati proses audit, baru mengakomodasi tiga tipe alamat Bitcoin tanpa dukungan Taproot, dan masih berakar pada kunci tipe koin alih-alih susunan seed phrase.
Satu Juta Koin Satoshi Tertinggal
Titik lemah terbesar dari perisai baru ini justru menyasar pencipta Bitcoin itu sendiri. Sistem pembuktian Project Eleven mutlak bersandar pada BIP-32, standar hierarki derivasi kunci yang baru diperkenalkan ke jaringan pada 11 Februari 2012.
Satoshi Nakamoto menambang blok-blok awal Bitcoin pada rentang 2009 hingga 2010. Pada era itu, ekosistem jaringan hanya memfasilitasi format output Pay-to-Public-Key. Konsep seed phrase maupun jalur derivasi kunci sama sekali belum ada. Akibat benturan arsitektur ini, estimasi 1,1 juta BTC yang tersimpan di dalam dompet-dompet Satoshi dipastikan tidak cocok dengan alat penyelamat kuantum ini.
📌 Baca JugaMichael Saylor Lempar Sinyal Beli Lewat ‘What’s Next?’ - Padahal Brankas Strategy Sudah Berisi Kripto $54 Miliar
Bagi pemegang aset modern, alat ini menawarkan ruang untuk bernapas lega menanti gelombang komputasi kuantum. Tapi bagi sang pencipta anonim, ketika Q-Day akhirnya tiba, koin-koin pertama yang melahirkan industri ini tampaknya harus dibiarkan membeku di dalam dompetnya.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




