Aplikasi OKX kembali muncul di Google Play Store Korea Selatan pada pukul 08:00 waktu setempat, 28 Juli. Pemulihan ini terjadi setelah aplikasi itu sempat tidak tersedia dari pandangan publik selama empat hari sejak 24 Juli. Langkah ini menjadikan OKX bursa pertama yang lepas dari gelombang pembatasan yang menjerat setidaknya 29 aplikasi derivatif kripto asing di negara itu.
Di tengah pemulihan ini, lanskap bursa kripto di Korea Selatan memperlihatkan nasib yang berbeda-beda di antara para penyedia layanan aset digital.
Nasib Berbeda dengan Bybit dan Puluhan Bursa Lain
Sementara pintu terbuka untuk OKX, Bybit harus menghadapi realitas yang bertolak belakang. Aplikasi Bybit masih terblokir sejak 10 Juli dan belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Investigasi Digital Asset pada 24 Juli menemukan gambaran yang lebih luas: setidaknya 29 aplikasi bursa derivatif kripto luar negeri tidak tersedia di Google Play Korea.
Dari jumlah itu, pengalaman pengguna terpecah dalam tiga bentuk pemblokiran. Sebanyak 17 aplikasi sama sekali tidak bisa ditemukan ketika dicari lewat kolom pencarian toko aplikasi. Enam aplikasi masih muncul tapi menampilkan notifikasi “Unavailable”, dan enam lainnya memunculkan peringatan “tidak tersedia di region ini” bagi para pengunduh.
Gelombang pembatasan ini menghantam dua kelompok platform dengan rekam jejak berbeda. Kelompok pertama berisi 14 platform yang memang sudah dilaporkan oleh Unit Intelijen Keuangan (FIU) ke penegak hukum karena beroperasi sebagai penyedia layanan aset virtual (VASP) tidak terdaftar. Daftar merah ini mencakup KuCoin, MEXC, BingX, XT.COM, LBank, dan CoinW. Kelompok kedua berisi 15 platform yang tidak dilaporkan ke penegak hukum tapi ikut dibatasi. Di kelompok abu-abu inilah OKX, Bybit, Gemini, WhiteBIT, dan BitMEX tertahan.
Kebijakan Internal, Bukan Perintah Otoritas
Di tengah maraknya spekulasi tentang intervensi pemerintah, Google memberikan pandangan. Raksasa teknologi itu menyatakan bahwa pembatasan akses puluhan aplikasi ini murni dibuat berdasarkan kebijakan internal Google sendiri. Mereka memastikan bahwa langkah sapu bersih ini bukan instruksi langsung dari pihak otoritas Korea.
Meski tidak ada perintah penutupan langsung, iklim pengawasan di Korea Selatan belakangan ini memang sedang menguat tajam. Ketua Komisi Jasa Keuangan (FSC) Lee Eog-won mencatat bahwa otoritas sudah menyelidiki lebih dari 40 kasus dugaan perdagangan kripto tidak wajar. Berbagai penyelidikan ini bergulir dalam dua tahun pertama sejak diresmikannya Undang-Undang Perlindungan Pengguna Aset Virtual.
📌 Baca JugaInduk Kraken Caplok Infrastruktur di Balik 60 Juta Dompet Kripto - Tapi Tidak Membeli Seluruh Perusahaannya
Manuver Ekspansi di Luar Asia
Di luar dinamika pemblokiran Asia, OKX terus melebarkan operasi bisnisnya di pasar Barat. Sepanjang bulan ini, OKX Europe membuka layanan konversi satu arah dari USDT ke USDC untuk pengguna di 30 negara Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa (EEA). Manuver pengembangan produk ini bertepatan dengan penguatan sisi politik perusahaan, di mana mantan Gubernur New York Andrew Cuomo direkrut untuk bergabung ke dalam dewan OKX pada 20 Juli.
Satu per satu aplikasi mungkin tumbang di etalase digital sebuah negara, namun mesin bursa-bursa raksasa ini terus mencari jalan di sisi lain dunia.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




