Para manajer aset terbesar dunia kini ikut bersuara soal regulasi. Dalam sepekan terakhir, BlackRock, Fidelity, Franklin Templeton, Goldman Sachs, dan SoFi maju serempak mendesak Kongres AS. Target mereka satu: pengesahan segera Digital Asset Market Clarity Act.
Dukungan kolektif ini membawa bobot baru bagi regulasi aset digital. Samara Cohen dari BlackRock menyebut rancangan undang-undang ini sebagai langkah penting menuju kerangka regulasi yang mendahulukan investor. Senada dengan Cohen, CEO Goldman Sachs David Solomon melihat aturan ini dari sudut pandang stabilitas. Solomon mengakui CLARITY Act bukan aturan yang sempurna, tapi ia meyakini dokumen ini bisa menciptakan arena bermain yang setara bagi semua pihak.
Bagi Franklin Templeton, poin utamanya adalah kepastian operasional. Mereka menegaskan bahwa undang-undang ini akan membuat investor tahu persis perlindungan apa yang berlaku untuk dana mereka. Di sisi lain, perusahaan juga bisa memetakan dengan jelas regulator mana yang mengawasi gerak-gerik bisnis mereka.
Benturan Kepentingan Stablecoin dan Aturan Etika
Di tengah derasnya dukungan itu, penolakan datang dari bank terbesar di Amerika Serikat. JPMorgan mengambil posisi yang berseberangan dengan bursa kripto seperti Coinbase. Bank ini mendesak adanya pembatasan ketat untuk imbal hasil atau yield stablecoin. Mereka berargumen bahwa membiarkan yield stablecoin mengalir tanpa batas akan memberi keuntungan yang tidak adil bagi penerbit kripto jika dibandingkan dengan produk tabungan perbankan tradisional.
Sementara perdebatan industri berlanjut, Senat baru saja merilis teks legislatif gabungan yang menyatukan draf dari House dan Senat. Salah satu poin krusial yang masuk ke dokumen ini adalah pasal etika pejabat pemerintah terkait kepemilikan dan keterlibatan di pasar kripto.
Namun, ada satu isu besar yang membuat pembahasan teks ini terhambat. Batasan mengenai kepentingan bisnis kripto milik Presiden Trump belum juga menemui titik temu. Tarik-ulur soal batas konflik kepentingan ini membuat draf undang-undang itu tertahan sebelum bisa disepakati ke tahap akhir.
📌 Baca JugaBursa Terbesar AS Seret Regulatornya Sendiri ke Pengadilan - Perebutan Kendali Pasar $60 Triliun Baru Saja Dimulai
Waktu Sempit Sebelum Rehat Musim Panas
Tekanan dari BlackRock dan Goldman Sachs kini harus berhadapan dengan kalender politik Capitol Hill. Majority Leader Senat John Thune memutuskan untuk memprioritaskan penyelesaian nominasi yudisial dan paket sanksi terhadap Rusia. Keputusan prioritas ini memaksa CLARITY Act masuk ke daftar tunggu, menanti gilirannya dipanggil ke lantai Senat.
Hambatan terbesar aturan ini kini bukan lagi lobi industri, melainkan tenggat waktu kalender. Senat dijadwalkan memulai rehat musim panas pada 8 Agustus. Jeda panjang ini praktis hanya menyisakan beberapa hari legislatif bagi anggota dewan untuk mengambil keputusan dan melakukan pemungutan suara.
Bagi industri kripto, masuknya raksasa Wall Street ke arena lobi mengubah peta dorongan legislatif. RUU yang awalnya dianggap urusan pemain kripto kini membawa beban desakan dari manajer aset bernilai triliunan dolar. Sayangnya, sekeras apa pun desakan industri, kelanjutan aturan ini bergantung sepenuhnya pada sisa hari kerja anggota dewan yang terus menipis.
Dilansir dari CoinDesk.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




