Dinding keamanan broker kripto berlisensi pertama di Israel baru saja diretas, dan celahnya datang dari luar. Bits of Gold mengumumkan investigasi insiden siber pada 16 Agustus 2026, menyusul temuan akses tidak sah yang menembus sistem dukungan dan analisis data pihak ketiga yang mereka gunakan.
Serangan ini langsung mengincar privasi pengguna. Daftar informasi yang berpotensi jatuh ke tangan peretas mencakup nama lengkap, nomor ID, alamat email, nomor telepon, hingga rekam jejak alamat IP. Lebih dari itu, detail rekening bank nasabah beserta alamat wallet kripto publik mereka juga ikut terseret dalam kebocoran data ini.
Meski begitu, benteng penyimpanan dana masih utuh. Bits of Gold memastikan seluruh aset digital pengguna aman pada tempatnya dan tidak terpengaruh oleh insiden ini. Informasi krusial lainnya seperti kata sandi akun, hasil pindaian dokumen identitas resmi, serta rincian lengkap kartu kredit termasuk kode CVV sama sekali tidak tersentuh oleh pelaku peretasan.
Apa yang Belum Terjawab
Berbagai laporan yang beredar di pasar menyebutkan insiden ini berdampak pada sekitar 200.000 nasabah. Mengingat total pengguna platform ini melampaui 300.000 orang, lebih dari separuh basis pelanggan mereka berpotensi masuk dalam radar peretas.
Namun, angka pasti dari kerugian data ini masih menggantung. Pihak Bits of Gold belum mengonfirmasi jumlah korban, dan identitas pasti penyedia perangkat lunak pihak ketiga yang menjadi celah peretas juga belum diungkap ke publik. Kasus pembobolan ini belakangan diketahui bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari kampanye serangan siber lebih luas yang menimpa ratusan perusahaan lain di berbagai negara.
๐ Baca JugaData Pribadi 39.798 Pelanggan SafePal Bocor Akibat Celah Plugin - Tapi Seed Phrase dan Kunci Privat Tak Ikut Terseret
Reputasi Bits of Gold di industri kripto Israel membuat insiden ini langsung menarik perhatian. Sebagai pemegang lisensi jasa keuangan nomor 56716, entitas ini adalah perusahaan kripto aktif pertama yang mengantongi izin permanen dari otoritas pasar modal Israel. Pada 27 April 2026 lalu, broker ini juga baru mendapat restu regulator untuk menerbitkan BILS, token stablecoin yang nilainya dipatok langsung pada pergerakan mata uang shekel Israel.
Menunggu Serangan Lanjutan
Meski dompet digital nasabah terhindar dari pembobolan langsung, ancaman sesungguhnya kini bergeser ke ranah rekayasa sosial atau social engineering. Data pribadi autentik yang terlanjur bocor ini telah menjadi bahan baku utama untuk melancarkan serangan phishing lanjutan.
Berbekal nama, nomor telepon, dan detail rekening bank yang akurat, kelompok penipu bisa menyamar sebagai layanan pelanggan atau otoritas resmi dengan tingkat keakuratan yang meyakinkan. Bagi nasabah, pencurian aset kripto mungkin gagal terjadi dari dalam sistem, tapi tumpukan data yang bocor memastikan mereka menjadi target manipulasi yang jauh lebih terarah di luar sana. Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




