Bitcoin kehilangan hampir 3% nilainya hanya beberapa saat setelah pemerintah Amerika Serikat merilis data inflasi. Harga aset ini tergelincir dari level tertinggi harian $65.234 menuju titik terendah $63.304 dalam waktu singkat, menghapus harapan para pembeli yang bersiap untuk menembus resistensi baru.
Ironisnya, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Juli itu sama sekali tidak memuat kabar buruk. Angka inflasi utama tercatat naik 0,1% pada basis bulanan (MoM) dan turun menjadi 3,4% dari tingkat sebelumnya 3,5% di bulan Juni. Inflasi inti juga sejalan dengan ekspektasi konsensus ekonom, yaitu naik 0,2% pada hitungan bulan dan 2,5% untuk hitungan tahunan.
Ketiadaan kejutan dari rilis data inilah yang memicu aksi ambil untung. Chief Analyst CoinEx, Jeff Ko, menilai bahwa reaksi datar pasar membuktikan angka CPI sudah terhitung ke dalam harga sebelum laporan resmi terbit. Pola “sell the news” pun berlaku penuh; ketika berita sebenarnya keluar sesuai prediksi, pelaku pasar memilih untuk mencairkan posisi mereka.
Indikator Teknikal yang Mengarah ke Bawah
Kondisi teknikal saat ini memberi gambaran mengapa momentum jual cepat mendominasi. Selama beberapa minggu terakhir, pergerakan Bitcoin tertahan bolak-balik dalam kisaran sempit $62.000 hingga $66.000. Fase konsolidasi ini diiringi penyusutan volume perdagangan dan volatilitas tersirat.
Dari sisi indikator tren, tekanan turun tampak jelas memegang kendali. Pembacaan Aroon Down melambung ke level 71,43%, jauh meninggalkan Aroon Up yang terpuruk di 14,29%. Di saat yang sama, indikator Relative Strength Index (RSI) pada grafik empat jam berada di posisi 43,85. Angka ini menandakan momentum pembeli yang melemah, kendati harga belum jatuh ke area jenuh jual (oversold). Untuk saat ini, Bitcoin masih menggantung tipis di atas rata-rata pergerakan 50 hari (50-day moving average) di area $63.445, yang bertindak sebagai dinding pertahanan jangka pendek terakhir.
Fokus Bergeser ke Suku Bunga dan Arus Dana
Pelemahan harga ini ternyata sejalan dengan mengeringnya aliran modal institusi. Berdasarkan data pelacakan on-chain dari lookonchain, produk ETF Bitcoin spot menderita arus keluar dana bersih sebesar $72,24 juta dalam tempo satu hari. Sebagai perbandingan, aset pesaingnya Ethereum ETF justru menerima dana masuk segar sebesar $7,47 juta di waktu yang sama.
Menurut Ko, kebangkitan kembali pasar kripto tidak bisa bersandar pada sentimen inflasi tunggal. Sebuah pemulihan yang tangguh menuntut tiga lampu hijau yang menyala bersama-sama: imbal hasil riil yang melandai, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta arus masuk institusi ke produk ETF dan stablecoin yang kembali membesar.
๐ Baca JugaShort BTC $136 Juta Pakai Leverage 40x - Likuidasinya Cuma Berjarak 1,2% dari Harga Sekarang
Para pemodal besar kini beralih mencerna hal lain. Dibandingkan inflasi, laporan ketenagakerjaan bulan Juli terbukti lebih membimbing arah proyeksi kebijakan suku bunga ke depan. Laporan nonfarm payrolls yang menyusut tajam 23.000 lapangan kerja - berbanding terbalik dari ekspektasi penambahan 80.000 pekerja - telah memaksa pasar menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga di bulan September dari 57% menjadi 44%.
Bagi pedagang yang memegang posisi saat ini, periode buntu di rentang harga $63.000 menuntut kesabaran ekstra, setidaknya sampai ada kombinasi sentimen makro ekonomi yang meyakinkan untuk mendobrak tekanan jual.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




