Selama bertahun-tahun, Michael Saylor dan perusahaannya, Strategy, dikenal dengan satu mantra yang nyaris jadi identitas: jangan pernah jual Bitcoin. Kini mantra itu retak. Strategy - pemegang Bitcoin korporat terbesar di dunia - baru saja melepas 3.588 keping Bitcoin senilai sekitar Rp3,5 triliun, sebuah langkah yang beberapa waktu lalu nyaris tak terbayangkan.
Yang lebih menarik bukan cuma faktanya, tapi alasannya. Penjualan ini bukan untuk memborong lebih banyak Bitcoin di harga murah, melainkan untuk menambal sebuah lubang yang mulai menganga di struktur keuangan perusahaan.
Dividen yang Mulai Menekan
Strategy menggunakan hasil penjualan itu untuk membayar dividen kepada investor produk saham preferen andalannya, Stretch alias STRC. Masalahnya, STRC belakangan tergelincir: harganya sempat jebol di bawah nilai par 100 dolar hingga menyentuh bawah 75 dolar pada bulan lalu. Penurunan itu menyalakan kekhawatiran bahwa model dividen perusahaan tak lagi berkelanjutan tanpa suntikan dana segar.
Di sinilah ironinya. Perusahaan yang membangun seluruh reputasinya di atas prinsip menimbun Bitcoin tanpa henti kini harus menjual sebagian aset itu justru demi menjaga janji bayar kepada pemegang sahamnya. Menariknya, pasar tak menghukum langkah ini - saham Strategy malah naik setelah penjualan diumumkan.
Bukan Cuma Strategy
Langkah Strategy bukan kejadian tunggal. Di pekan yang berdekatan, Empery Digital - perusahaan bertreasuri Bitcoin lain - melepas hampir separuh simpanan Bitcoin-nya untuk mendanai proyek pusat data kecerdasan buatan dan melunasi utang. Pola yang sama mulai terlihat: keyakinan pada strategi perusahaan penimbun Bitcoin memudar, dan sebagian modal justru mengalir ke arah AI.
📌 Baca JugaBank Wall Street Ini Kini Jual Bitcoin, Ethereum, dan Solana Langsung ke Nasabah Ritel - dan Itu Baru Permulaan
Fenomena ini terjadi saat Bitcoin diperdagangkan di kisaran 63.000 dolar, sekitar 50% di bawah rekor tertingginya 126.080 dolar pada Oktober 2025. Tekanan harga yang berkepanjangan membuat perusahaan-perusahaan yang dulu jorjoran membeli kini berpikir dua kali.
Pergeseran ini menyingkap sebuah kebenaran yang kerap terlupakan di masa euforia: perusahaan penimbun Bitcoin tetaplah perusahaan, dengan utang, dividen, dan kewajiban yang harus dibayar dalam dolar - bukan dalam keyakinan. Ketika harga sedang bersahabat, menimbun terlihat seperti kejeniusan. Ketika pasar berbalik, tagihan tetap datang, dan bahkan pemegang mantra paling teguh pun bisa terpaksa membuka brankasnya.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




