Pengembang inti Ethereum (All Core Developers) menunda implementasi hard fork Glamsterdam di jaringan uji coba Hoodi. Keputusan itu diumumkan Ethereum Foundation melalui unggahan blog pada 6 November 2026, merespons hasil audit ChainSecurity tertanggal 13 Oktober yang menemukan delapan invarian smart contract berisiko rusak. Penerapan peningkatan teknis ini ditahan sampai seluruh masalah kompatibilitas kontrak tuntas diatasi.
Bukan sekadar pergeseran jadwal biasa, temuan audit kali ini menyentuh langsung logika dasar eksekusi smart contract di jaringan.
Kenapa Hitungan Gas Baru Berisiko Mengubah Perilaku Kontrak
Akar kendala teknis bersumber dari dua proposal peningkatan, yakni EIP-8037 dan EIP-8038. Kedua usulan itu mengubah mekanisme pembebanan gas untuk pembuatan dan akses status (state) pada blockchain Ethereum.
Dalam praktiknya, sejumlah smart contract yang aktif saat ini bergantung pada anggaran gas tetap (fixed gas budgets) atau mengandalkan asumsi sisa gas setelah panggilan eksternal (external call) mengalami kegagalan. Di bawah aturan akuntansi gas Glamsterdam yang baru, gas yang sebelumnya dianggap hangus justru bisa kembali tersedia bagi eksekusi lanjutan.
Kembalinya sisa gas itu memicu operasi kontrak terus berjalan, padahal pembuat kode awalnya merancang agar seluruh transaksi berbalik (revert) saat panggilan luar gagal. ChainSecurity memperingatkan risiko serius dari anomali ini: transaksi yang seharusnya gagal bisa tercatat permanen di buku besar, sementara transaksi sah berpotensi kehilangan hak coba lagi (retry options).
Menahan Uji Coba demi Memetakan Dampak ke Aplikasi
Menindaklanjuti temuan itu, Ethereum Foundation merilis repositori publik di GitHub yang mendokumentasikan delapan invarian terdampak. Sebagian besar temuan berpusat pada batasan anggaran gas tetap dan cadangan gas (gas reserves).
Marius van der Wijden, pengembang di Ethereum Foundation, menyatakan tim pengembang inti kini bekerja sama dengan ChainSecurity dan Dedaub, sembari menggelar audit internal untuk memetakan dampak perubahan ke seluruh ekosistem aplikasi terdesentralisasi (dApp).
Langkah penghentian di Hoodi sekaligus menahan aktivasi lapisan eksekusi Amsterdam dan lapisan konsensus Gloas, serta menunda rencana pengujian batas gas testnet yang hendak dinaikkan menjadi 200 juta. Glamsterdam sendiri sebelumnya telah diaktifkan di testnet Sepolia pada 6 Oktober 2026 sebagai salah satu uji coba besar terakhir sebelum peluncuran di jaringan utama (mainnet).
๐ Baca JugaTukar Aset di Rollup Tanpa Transaksi Bridge Terpisah - EEZ Pamerkan Tiga Terobosan L1-L2 di Devcon
Bagi pengembang aplikasi di jaringan Ethereum, penundaan di testnet Hoodi memberi waktu untuk memeriksa ulang logika panggilan eksternal pada kode masing-masing sebelum perubahan sistem gas diterapkan di mainnet.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Kerja Staking Kripto dan Risikonya
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




