Replay Attack adalah serangan keamanan siber ketika pelaku mencegat transaksi kripto yang sah, lalu mengirimkannya kembali tanpa izin untuk memproses transaksi yang sama secara berulang. Serangan ini biasanya terjadi saat blockchain mengalami pemisahan jaringan, sehingga pelaku bisa menduplikasi transaksi pengiriman dana di kedua jaringan baru demi keuntungan pribadi.
๐ Cara baca: ri-pley e-tek
Penjelasan
Bayangkan kamu sedang berlibur dan membeli tiket masuk tempat wisata menggunakan voucer digital sekali pakai. Seseorang yang usil merekam gambar voucer itu saat kamu menunjukkannya di gerbang masuk. Setelah kamu masuk, orang tersebut menggunakan rekaman voucer yang sama untuk masuk secara gratis tanpa sepengetahuanmu.
Dalam dunia kripto, hal ini terjadi ketika seseorang menyalin bukti transaksi kirim uangmu yang sah, lalu mengirimkannya kembali ke sistem. Akibatnya, sistem memproses transaksi itu dua kali, membuat saldonya terpotong lagi untuk tujuan yang sama.
Replay Attack terjadi ketika penyerang mencegat data transaksi yang sah yang dikirimkan di jaringan blockchain, lalu menyiarkan kembali data tersebut ke jaringan. Karena data transaksi tersebut telah ditandatangani dengan kunci privat yang sah oleh pemilik aslinya, jaringan akan menganggap transaksi kedua itu juga valid dan memprosesnya kembali.
Kasus paling umum dari serangan ini terjadi selama peristiwa pemisahan blockchain atau hard fork. Ketika sebuah blockchain terbagi menjadi dua jaringan independen yang baru, transaksi yang dilakukan di jaringan pertama juga akan valid di jaringan kedua. Penyerang memanfaatkan momen ini untuk menduplikasi transaksi pengiriman koin dari satu jaringan ke jaringan lainnya.
Untuk mencegah serangan ini, sebagian besar pengembang blockchain modern menerapkan langkah perlindungan khusus seperti penanda transaksi unik (transaction replay protection). Fitur ini memastikan bahwa transaksi yang dibuat di satu jaringan setelah pemisahan tidak akan bisa dibaca atau dianggap valid oleh jaringan pecahan lainnya.
Dalam aspek teknis, perlindungan terhadap replay attack setelah hard fork biasanya diimplementasikan melalui skema Chain ID yang unik untuk setiap rantai blockchain baru, seperti yang diatur dalam standar EIP-155 di Ethereum. Dengan menambahkan Chain ID ke dalam data transaksi sebelum ditandatangani, validator di blockchain A akan langsung menolak transaksi yang berasal dari blockchain B karena tanda tangan kriptografisnya menjadi tidak cocok saat divalidasi dengan aturan rantai yang berbeda.
๐ฎ๐ฉ Konteks Indonesia
Di Indonesia, meskipun aset kripto dikategorikan sebagai komoditi yang diperdagangkan dan bukan alat pembayaran sah menurut undang-undang, keamanan transaksi tetap menjadi prioritas pengawasan bersama oleh OJK/Bappebti. Investor lokal disarankan untuk bertransaksi di bursa yang sudah resmi terdaftar sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) untuk meminimalkan risiko kerugian teknis akibat serangan siber seperti replay attack, di samping kewajiban mereka untuk mematuhi aturan pajak final yang berlaku.
Contoh
Bayangkan kamu memesan satu kamar hotel melalui agen perjalanan untuk liburan akhir pekan. Setelah pembayaran selesai, staf hotel secara tidak sengaja memproses ulang bukti pembayaran yang sama dari sistem mereka untuk kedua kalinya. Akibatnya, kamu ditagih dua kali untuk pemesanan satu kamar yang sama karena sistem hotel menerima instruksi pembayaran yang identik secara berturut-turut.
Apakah Replay Attack bisa meretas kunci privat pengguna?
Tidak, serangan ini sama sekali tidak meretas atau mencuri kunci privat pengguna. Penyerang hanya menyalin dan mengirim ulang data transaksi yang sudah ditandatangani secara sah, mirip seperti fotokopi tiket yang sudah dicap resmi lalu digunakan kembali.
Bagaimana cara pengguna kripto melindungi diri dari Replay Attack?
Pengguna biasa tidak perlu melakukan konfigurasi teknis yang rumit, karena perlindungan ini biasanya sudah diatur oleh pengembang blockchain dan penyedia dompet kripto. Namun, sangat disarankan untuk menghindari transaksi apa pun selama proses pembaruan jaringan atau hard fork berlangsung sampai situasi dipastikan aman.
๐ง Uji Paham
Istilah Terkait
Terakhir diperbarui 9 Agustus 2026. Konten bersifat informatif/edukatif, bukan nasihat keuangan atau hukum - regulasi kripto bisa berubah, selalu verifikasi ke sumber resmi (OJK/Bappebti) untuk keputusan penting.




