Bitcoin berbalik naik ke $64.100, memulihkan posisinya dari titik terendah harian $63.400, setelah Bureau of Labor Statistics Amerika Serikat mengumumkan data inflasi Juli 2026. Indeks Harga Konsumen (CPI) tercatat naik 0,1% bulan ke bulan dan 3,4% dari tahun ke tahun - angka yang tepat sejajar dengan ekspektasi pasar.
Laporan ini juga menunjukkan CPI inti, yang menyisihkan fluktuasi harga pangan dan energi, naik 0,2% pada Juli dan 2,5% tahun ke tahun. Laju tahunan inflasi inti melambat dibandingkan angka 2,6% yang tercatat pada Juni lalu. Sebelum data inflasi dirilis, sentimen pasar sempat tertahan oleh ketidakpastian konflik AS-Iran dan eskalasi ketegangan di Selat Hormuz yang terus menekan minat pada aset berisiko.
Arah Suku Bunga Masih Kabur
Angka inflasi yang pas dengan perkiraan belum memberi kepastian bagi arah kebijakan The Fed. Tingkat inflasi 3,4% masih menancap di atas target 2% milik bank sentral, sebuah kondisi fundamental yang membatasi ruang bagi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Di platform prediksi Polymarket, probabilitas The Fed menahan suku bunga pada pertemuan September mendominasi di angka 67%, sementara kemungkinan kenaikan 25 basis poin tercatat 34%. Untuk proyeksi keseluruhan tahun 2026, peluang terjadinya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga bertahan di kisaran 55%.
Ryan Lee dari Bitget Research mencatat bahwa data CPI yang sesuai ekspektasi ini tidak memberi sinyal tegas ke arah mana pun. Perhatian pelaku pasar kini langsung berpindah untuk mencari petunjuk lanjutan dari simposium ekonomi Jackson Hole dan rilis data berikutnya, termasuk angka Indeks Harga Produsen (PPI) yang dijadwalkan keluar pada 13 Agustus.
Harga Spot Naik, Pasar Opsi Defensif
Kenaikan harga spot Bitcoin tidak lantas menjalar menjadi sentimen agresif di pasar derivatif. Andrei Grachev dari DWF Labs membeberkan bahwa kontrak opsi yang memposisikan Bitcoin jatuh ke $60.000 pada akhir Agustus kini dibayar lebih mahal daripada opsi kenaikan ke $70.000. Perbedaan premi ini menunjukkan pasar masih memasang pertahanan terhadap risiko ke bawah.
๐ Baca JugaBitcoin Anjlok ke Terendah Sepekan Saat Investor Lari ke Emas - Tapi Hubungan Keduanya Justru Masuki Era Baru
Dari sudut pandang makro, Gadi Chait dari Xapo Bank mengingatkan soal sensitivitas Bitcoin terhadap pasokan likuiditas. Sejarah menegaskan aset ini melesat kuat di tengah likuiditas melimpah dan lingkungan suku bunga rendah. Menyambung soal likuiditas, Fabian Dori dari Sygnum Bank memproyeksikan kondisi pasokan uang jangka menengah relatif tidak banyak berubah. Variabel penentu ke depan bergantung pada pergerakan saldo kas Treasury, penyesuaian aturan rasio leverage tambahan (eSLR), penyaluran kredit swasta, dan adopsi stablecoin.
Bagi pengamat pergerakan teknikal, batas penentu arah sudah tercatat di grafik. Bitcoin butuh dua kali penutupan harian di atas level $68.300 untuk membatalkan struktur konsolidasi mendatar saat ini. Selama batas itu belum tertembus, rentang harga lama akan terus mengurung pergerakan aset ini.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




