Stablecoin pelan-pelan merangkak masuk ke jantung sistem pembayaran Jepang. Kali ini lewat pemain besar: JCB, jaringan pembayaran domestik terbesar di negeri itu, resmi menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Circle untuk menjajaki penggunaan USDC bagi pembayaran lintas negara dan transaksi merchant.
Lewat kesepakatan ini, kedua perusahaan awalnya akan menguji penggunaan USDC untuk transfer dana treasury lintas negara internal JCB melalui sebuah proof of concept. Sembari itu, mereka juga mengevaluasi potensi pembayaran stablecoin di merchant Jepang, khususnya untuk melayani turis internasional. Sebagai bagian dari eksplorasi, keduanya turut menilai teknologi yang mendukung interoperabilitas lintas beberapa jaringan blockchain.
Bukan Langkah Pertama JCB
Kesepakatan dengan Circle ini sebenarnya melanjutkan jejak yang sudah dirintis JCB sejak awal tahun. Pada Januari, JCB meluncurkan inisiatif terpisah bersama Digital Garage dan Resona Holdings untuk menguji pembayaran stablecoin di toko fisik Jepang, dengan fokus mengidentifikasi tantangan teknis dan operasional bagi merchant domestik. Di luar proof of concept awal bersama Circle, JCB juga berencana mengevaluasi aplikasi tambahan dari infrastruktur stablecoin, meski hingga kini belum ada linimasa peluncuran komersial yang dipatok.
Sekadar gambaran soal skala pemainnya: USDC adalah stablecoin terbesar kedua di dunia dari sisi kapitalisasi pasar, dengan suplai beredar sekitar $73 miliar. Angka itu masih berada di bawah USDT milik Tether yang beredar sekitar $184 miliar, menurut data DefiLlama.
Jepang Jadi Ladang Uji Coba Stablecoin
Kesepakatan JCB-Circle menambah panjang daftar inisiatif serupa yang bermunculan di Jepang tahun ini. Pada Juni, Circle dan Nomura - bank investasi terbesar Jepang - dilaporkan mengembangkan layanan settlement forex berbasis stablecoin untuk perusahaan Jepang, yang memungkinkan konversi yen ke USDC untuk transaksi lintas negara dengan settlement nyaris instan. Belum lama ini, operator convenience store Lawson juga mengumumkan rencana menguji pembayaran stablecoin berdenominasi yen di satu lokasi Tokyo mulai Agustus, sementara perusahaan pembayaran Netstars meluncurkan layanan merchant yang mendukung USDC, USDT, dan JPYC di blockchain Solana dan Polygon.
📌 Baca JugaVisa Luncurkan Platform Stablecoin Open USD - Circle Kini Punya Rival yang Didukung 140 Perusahaan
Gelombang eksperimen ini tak lepas dari posisi Jepang sebagai salah satu ekonomi besar pertama yang membangun kerangka hukum khusus untuk stablecoin. Sejak amendemen Payment Services Act berlaku pada 2023, bank, perusahaan trust, dan penyedia transfer uang berlisensi di sana sudah diizinkan menerbitkan token berbasis fiat. Momentumnya berlanjut: pada Juni, majelis rendah parlemen meloloskan RUU yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen finansial, langkah yang berpotensi membuka jalan bagi ETF kripto sekaligus membawa sektor ini ke bawah aturan pasar yang lebih ketat.
Yang Perlu Ditunggu ke Depan
Untuk saat ini, kesepakatan JCB dan Circle memang masih di tahap penjajakan, sebuah MOU tanpa tenggat komersial yang pasti. Tapi ketika jaringan kartu terbesar sebuah negara mau serius menguji stablecoin, itu bukan lagi sekadar riuh komunitas kripto. Jika seluruh eksperimen yang berjalan paralel ini berhasil, turis yang berkunjung ke Jepang suatu hari bisa jadi cukup membayar belanjanya dengan dolar digital - dan Jepang akan tercatat sebagai salah satu tempat pertama di mana stablecoin benar-benar keluar dari layar bursa menuju kasir sehari-hari.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




