📅 Rabu, 22 Juli 2026 · --:-- WIB Ikuti kami
Ecosystem
ID
Kapitalisasi Stablecoin Tembus $309,7 Miliar - Tapi Studi BIS Buktikan Aset Ini Kebal Kontrol Modal

Kapitalisasi Stablecoin Tembus $309,7 Miliar - Tapi Studi BIS Buktikan Aset Ini Kebal Kontrol Modal

Kapitalisasi pasar stablecoin global naik menembus $309,7 miliar, dari $260 miliar setahun lalu. Dana sebesar ini tidak sekadar berputar di bursa perdagangan kripto. Studi terbaru dari Bank for International Settlements (BIS) yang melacak deposito mata uang asing dan arus masuk stablecoin dolar di lebih dari 130 ekonomi mengungkap pola berbeda. Instrumen pembayaran ini memicu praktik dollarisasi digital baru yang meluncur bebas dari kontrol modal.

Kondisi ini makin mencolok ketika suatu negara dihantam tekanan ekonomi makro. BIS membuktikan deposito valuta asing dan arus masuk stablecoin sama-sama naik saat krisis melanda. Namun perbedaannya terletak pada reaksi terhadap aturan. Saat kebijakan pembatasan valas dan kontrol modal dipasang oleh pemerintah, volume deposito bank langsung merespons. Sebaliknya, volume arus masuk stablecoin tetap melenggang tanpa memedulikan hambatan regulasi sama sekali.

Bagaimana Dolar Digital Lolos dari Kontrol?

Alasan utamanya bermuara pada perputaran stablecoin yang sebagian besar masih beroperasi di luar perimeter regulasi. Ruang ini dimanfaatkan rumah tangga dan pelaku bisnis untuk memindahkan uang ke dolar di luar pengawasan perbankan. Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) menangkap pergeseran ini di Nigeria. Warga dan sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) setempat gencar memakai stablecoin dolar untuk pembayaran lintas batas, remitansi, serta mengakses aset berdenominasi dolar.

IMF menemukan peralihan ini didorong oleh laju inflasi tinggi, depresiasi tajam mata uang lokal, dan minimnya jalur valuta asing resmi. Saat akses di bank sentral menyempit, masyarakat beralih ke dompet kripto di ponsel pintar untuk menyelamatkan nilai kekayaan mereka.

Menembus Pasar Amerika Latin

Pola migrasi dana yang serupa ikut terekam di wilayah Amerika Latin. Laporan dari Bitso Business memperlihatkan volume pembayaran menggunakan stablecoin melonjak tajam 81% year-on-year di separuh awal tahun 2026. Alat pembayaran digital ini telah masuk ke dalam kebutuhan operasional warga di berbagai negara berkembang lintas benua.

Tren ini memuncak pada tahun lalu. Angka pembelian aset seperti USDC dan USDT memegang porsi 40% dari total pembelian kripto di Amerika Latin sepanjang 2025. Dominasi pangsa pasar ini melampaui persentase akumulasi Bitcoin untuk pertama kalinya dalam catatan kawasan itu.

HashKey dan Kbank Korea Siapkan Pembayaran Lintas Batas Pakai Stablecoin Won - Tapi Regulator Masih Pegang Kunci📌 Baca JugaHashKey dan Kbank Korea Siapkan Pembayaran Lintas Batas Pakai Stablecoin Won - Tapi Regulator Masih Pegang Kunci

Regulasi Lama Tak Lagi Mempan

Eksodus kekayaan lewat jalur paralel ini menghadirkan beban bagi kedaulatan moneter suatu bangsa. BIS mengingatkan bahwa bingkai regulasi yang dirancang khusus untuk perbankan tradisional terbukti kurang efektif untuk menertibkan sistem keuangan yang sudah ditokenisasi penuh.

Pemerintah kini dituntut menyusun instrumen baru demi menjaga stabilitas ekonomi wilayah mereka. Saat nilai dolar berwujud koin bisa berpindah tangan semudah mengirim pesan pendek, tumpukan draf larangan valas di meja bank konvensional perlahan kehilangan relevansinya. Dilansir dari Cointelegraph.

Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.

Gimana reaksimu?
Bagikan artikel ini:
📩 KABAR BITCOIN 1 MENIT

Berita kripto harian, langsung ke inbox

Ringkasan 1 menit untuk kamu yang selalu bergerak. Gratis, kapan saja bisa berhenti.

Total
0
Share