Pemulihan harga Bitcoin dari penurunan awal pekan ini terpaksa terhenti mendadak. Aset kripto terbesar di dunia ini tergelincir ke level $64.384 sesaat setelah Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat merilis data klaim pengangguran awal yang ternyata lebih kuat dari perkiraan para analis.
Kondisi pasar tenaga kerja yang membaik sering kali ditafsirkan positif bagi bursa saham tradisional. Tapi di lanskap aset digital, angka kuat ini justru menjadi beban yang seketika memotong tren kenaikan harga.
Kenapa Data Bagus Berarti Buruk Bagi Kripto
Rincian data klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir pada 1 Agustus tercatat sebanyak 199.000. Angka ini memang naik 1.000 dari penghitungan pekan sebelumnya yang telah direvisi menjadi 198.000. Namun, jumlah pelapor pengangguran baru ini tetap bertengger di bawah ekspektasi pelaku pasar yang sebelumnya mematok target setinggi 204.000 klaim.
Konfirmasi tambahan soal ketangguhan sektor tenaga kerja juga terlihat jelas pada rata-rata bergerak empat minggu. Indikator yang biasa dipakai untuk menyaring volatilitas pelaporan mingguan ini tercatat turun perlahan dari 203.250 menjadi 198.750. Sementara itu, tingkat pengangguran tertanggung masih tetap stabil tertahan di angka 1,2%. Dari seluruh rangkaian rilis data ketenagakerjaan ini, satu-satunya komponen yang mencatatkan kenaikan hanyalah klaim berkelanjutan, yang bertambah 24.000 orang menjadi 1,801 juta untuk periode pekan yang berakhir pada 25 Juli.
Pasar kripto bergerak cepat karena posisinya amat sensitif dalam membaca arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Angka ketenagakerjaan yang kuat selalu menjadi pijakan bagi bank sentral untuk mempertahankan sikap hawkish. Selama lapangan kerja stabil, The Fed tidak punya alasan mendesak untuk segera memotong suku bunga yang membebani aset berisiko. Berdasarkan pantauan cuitan WatcherGuru, Ketua The Fed Kevin Warsh bahkan dilaporkan siap kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September, asalkan laju inflasi mulai bergerak lebih tinggi dari patokan perkiraan pasar.
Gagal Mempertahankan Momentum Harga
Rilis angka-angka makroekonomi ini langsung menyumbat momentum positif yang sedang dikumpulkan Bitcoin. Pada pembukaan awal pekan, aset digital ini sebenarnya baru saja merintis pemulihan bertahap usai jatuh menyentuh titik dasar di kisaran $62.400. Sayangnya, gelombang kejut dari kabar tenaga kerja ini memastikan harga Bitcoin gagal ditutup pada rentang waktu harian di atas level penentu $65.000.
📌 Baca JugaCanaan Cairkan Sebagian Kripto $130 Juta Demi Beli Saham Sendiri - Waktu Tinggal 180 Hari Sebelum Ditendang Nasdaq
Jika dorongan jual ini terus berlanjut, investor kini mengarahkan fokus ke dua dinding pertahanan harga. Titik support terdekat kini berada di level $64.000. Kalau batas pertama itu runtuh ditekan pesimisme pasar, harga Bitcoin berpotensi kuat untuk meluncur kembali mencari keseimbangan baru di angka $62.400. Penurunan lanjutan itu praktis akan langsung menghapus seluruh hasil pemulihan sepanjang pekan ini.
Kejadian terkini kembali menegaskan satu realitas pahit bagi para pelaku pasar. Selama perdebatan tentang pemangkasan suku bunga belum menemui garis akhir, langkah naik kripto akan terus rawan dibalikkan oleh satu rilis data ekonomi bulanan yang meleset dari perhitungan.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




