Polisi Belanda menahan dua pria - pemuda 24 tahun asal Geleen dan pria 45 tahun dari Leiden - pada 9 September 2026 atas tuduhan penipuan berbekal aset kripto palsu. Keduanya memakai token EURC tiruan untuk membeli jam tangan Rolex dari para penjual di Marktplaats, pasar daring terbesar di negara itu.
Rangkaian penyelidikan bermula dari laporan sejumlah penjual Rolex pada Agustus 2025. Modus operasi komplotan bertumpu pada kelengahan pengecekan: pembeli mengontak target, menyepakati pembayaran memakai EURC, lalu mentransfer token ke dompet korban. Saldo tampak bertambah dan penjual menyerahkan jam tangannya, namun token yang mendarat ternyata tidak memiliki nilai jual.
Nyaris Identik dengan Aslinya
Pihak kepolisian menyatakan token tiruan itu pada pandangan pertama tidak bisa dibedakan dari EURC asli. EURC yang sah di pasar adalah stablecoin euro terbitan Circle dan beroperasi normal; pelaku murni menduplikasi wujud tokennya di jaringan untuk mengecoh korban.
Polisi masih belum mengungkap detail teknis pencurian. Mereka menolak membeberkan nama blockchain yang dipakai, alamat dompet, riwayat hash, maupun cara token palsu diciptakan. Jumlah pasti Rolex yang dicuri, total kerugian finansial, serta jumlah korban juga belum dirilis ke publik.
Terbongkar Lewat Acara Investigasi
Penyelidikan akhirnya berbuah hasil lewat bantuan penonton. Polisi membawa kasus ini ke hadapan publik melalui program televisi investigasi Plaats Delict pada November 2025. Tayangan itu langsung memicu tanggapan saat beberapa pemirsa mengenali wajah salah satu tersangka dan melapor ke aparat.
Laporan warga menjadi pijakan baru bagi tim spesialis kripto kepolisian. Mereka menganalisis petunjuk dari pemirsa, melacak jejak digital pelaku, dan akhirnya mengidentifikasi pria kedua yang kini ikut tertangkap.
๐ Baca JugaWhite Hat Tarik 52 Bitcoin dari Celah Coldcard Sebelum Disapu Peretas - Begini Cara Korban Mengeklaimnya
Celah Transaksi Langsung
Insiden ini memperlihatkan kelemahan verifikasi on-chain yang rentan dieksploitasi dalam transaksi peer-to-peer. Saat penjual melepas barang hanya bermodal notifikasi masuk tanpa memeriksa alamat smart contract token, aset kosong bisa dinilai sah.
Kasus ini membuktikan kelengahan transaksi on-chain bisa merugikan pertukaran fisik bernilai tinggi. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Rantai Kerentanan Darksword Incar iOS 26.5 - Tautan Safari Biasa Bisa Kuras Dompet Kripto
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




