Network School milik Balaji Srinivasan di Forest City, Johor, resmi diperintahkan tutup efektif mulai Rabu, 22 Juli. Namun, tepat di tengah krisis regulasi di Malaysia, proyek pendidikan kripto ini langsung mendapat rumah baru. Menteri Digital Development Kazakhstan Zhaslan Madiyev meneken Memorandum of Understanding dengan Srinivasan untuk mendirikan kampus Network School pertama di negara mereka.
Keputusan Malaysia menghentikan operasional kampus ini turun berlapis dari tingkat pemerintah lokal hingga nasional. Pemerintah kota Iskandar Puteri mengambil langkah pertama dengan mencabut izin usaha NSO Malaysia Sdn Bhd. Otoritas setempat menemukan adanya pelanggaran pada ketentuan lisensi dan tata letak tempat yang dipakai oleh entitas bisnis ini.
Hukuman tidak berhenti di tingkat kota. Malaysia Digital Economy Corporation langsung menyusul dengan menarik status ‘Malaysia Digital’ yang sebelumnya dipegang oleh NSO Malaysia. Tekanan memuncak saat Gubernur Johor Onn Hafiz Ghazi ikut turun tangan. Ia mendesak otoritas federal di Kuala Lumpur untuk menyelidiki kemungkinan terjadinya pelanggaran hukum imigrasi di dalam proyek ini.
Bantahan yang Berujung Relokasi
Rentetan pencabutan lisensi ini bertolak belakang dengan pernyataan Srinivasan beberapa hari sebelumnya. Pada hari Jumat, ia sempat membantah keras laporan yang menyebut Network School akan tutup. Ia mengklaim pihak pengelola hanya menerima dua surat teguran dari otoritas atas masalah kecil.
Menurut versi Srinivasan, teguran pemerintah hanya berkaitan dengan urusan pemasangan sebuah papan nama dan penggunaan satu sisi unit ruang kerja bersama yang belum mengantongi lisensi resmi. Kenyataannya, operasi Network School di Malaysia harus berhenti total minggu ini.
Alatau Jadi Tujuan Berikutnya
Penolakan dari Malaysia langsung dimanfaatkan oleh Kazakhstan. Kesepakatan yang diteken Madiyev dan Srinivasan sejalan dengan cetak biru ekonomi mereka. Pemerintah Kazakhstan saat ini memposisikan negaranya sebagai pusat teknologi Asia Tengah, lengkap dengan rencana membangun kota kripto pertama di Alatau.
Srinivasan melihat yurisdiksi baru ini sebagai pijakan yang ideal. “Kampus baru kami akan menjadi surga bagi techno-optimisme global, dengan visa dipercepat, redomiciliation yang disederhanakan,” tegasnya menanggapi kerja sama resmi dengan Kazakhstan.
📌 Baca JugaTelegram Tanam Wallet Kripto Langsung ke 1 Miliar Aplikasi - Langkah Durov Bikin Harga Gram Naik 7%
Bagi pengamat industri, drama pemindahan kampus dalam hitungan jam ini bukan sekadar urusan birokrasi biasa. Haseeb Qureshi dari Dragonfly Capital melihat pola ini sebagai pembuktian teori Srinivasan di dunia nyata. “Drama Malaysia justru memvalidasi tesis network state - talenta dan modal bernegosiasi kolektif dengan negara lain,” ujarnya.
Kejadian ini membuktikan satu hal penting tentang batas geografis di era Web3. Saat satu pintu tertutup, sekumpulan talenta kripto bisa langsung memindahkan nilai ekonomi mereka utuh-utuh ke yurisdiksi lain. Institusi modern mulai menukar loyalitas pada satu negara dengan efisiensi aturan main.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




