CEO Nasdaq Adena Friedman membidik dana yang selama ini mengendap di pasar finansial global: puluhan miliar dolar agunan antarlembaga. Berbicara di forum TOKEN2049 Singapura pada 8 Oktober 2026, Friedman menyebut tokenisasi blockchain bisa membebaskan agunan yang kini terkunci di berbagai institusi. Menurutnya, kombinasi tokenisasi aset seperti Treasury, saham, dan reksa dana pasar uang dengan tokenisasi uang untuk settlement akan membuat perputaran kolateral bergerak cair antarlembaga.
Langkah Nasdaq bukan sekadar wacana. Pada 10 September 2026, Nasdaq menanamkan investasi $100 juta di Payward, induk Kraken, dalam kesepakatan bervaluasi sekitar $21 miliar. Aksi ini memperluas kemitraan sejak Maret 2026 demi membangun infrastruktur ekuitas token, dengan peluncuran Nasdaq Equity Tokens dijadwalkan pada kuartal kedua 2027.
Namun sementara bursa konvensional bersiap, perdagangan saham token di lapangan sudah berjalan aktif di blockchain publik.
Belanja Saham Eceran di Luar Jam Bursa
Broker berlisensi Securitize meluncurkan 12 saham AS di blockchain Solana pada 8 Oktober 2026, mencakup Apple, Microsoft, Nvidia, Alphabet, Tesla, hingga Amazon. Peluncuran ini memberi jalan bagi pemegang kripto untuk memperdagangkan saham AS langsung dari dompet digital mereka.
Laporan Global Financial Stability Report terbaru IMF bertajuk ‘Scaling Tokenization’ memotret kebiasaan pasar ini: dari lima saham AS yang paling aktif diperdagangkan dalam bentuk token, lebih dari 50% transaksi berlangsung di luar jam pasar reguler AS. Sekitar 80% dari transaksi itu berupa pecahan kurang dari satu lembar saham.
Aktivitas malam ini langsung memengaruhi pasar induk. IMF menemukan lebih dari 85% pergerakan semalam pada saham token tercermin di saham konvensional hanya dalam lima menit setelah bursa Wall Street dibuka.
Likuiditas Tipis dan Risiko Guncangan 24 Jam
Kecepatan transmisi harga itu diiringi kerentanan likuiditas. IMF mencatat saham token 1,5 kali lebih volatil dibanding saham konvensional, dengan likuiditas yang jauh lebih rendah. IMF memperingatkan risiko sistemik dari kombinasi margin call otomatis, pergerakan kolateral antarplatform, dan perdagangan nonsetop 24 jam yang bisa mempersulit penanganan guncangan pasar.
Melihat arah pasar, regulator dan bursa besar mulai mengambil langkah. SEC AS merilis kerangka kerja sementara pada September 2026 untuk saham token dari platform yang disetujui. Bersamaan dengan itu, OKX dan Intercontinental Exchange (ICE), pemilik NYSE, telah mengajukan rencana pembentukan venue perdagangan saham token 24 jam.
๐ Baca JugaBeijing Masukkan Jaringan Blockchain ke Agenda Ekonomi Nasional - Tapi Dokumen Resminya Bersih dari Kata Kripto
Bagi investor ritel, saham token mempermudah kepemilikan aset global lewat pecahan kecil kapan saja. Namun di pasar yang tipis dan bergerak tanpa henti, volatilitas tinggi di luar jam bursa menuntut perhitungan risiko yang matang sebelum pasar reguler dibuka.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Nethermind dan ZEUS Serahkan Audit Kode ke AI Anthropic - Temukan 29.000 Celah Tanpa Manusia
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




