OpenAI dilaporkan menanyai sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir mengenai satu skenario. Perusahaan pencipta ChatGPT itu ingin tahu apakah kesepakatan antar pengembang kecerdasan buatan untuk memperlambat riset bersama berpotensi melanggar hukum antitrust. Laporan WIRED menyoroti manuver rahasia itu menyusul seruan terbuka dari Chief Scientist OpenAI, Jakub Pachocki. Dia mendesak industri menyepakati standar keamanan bersama sebelum sistem yang lebih canggih dilepas ke publik. Masalahnya, berkoordinasi menahan rilis produk di tingkat industri bisa diartikan sebagai taktik kartel yang melanggar aturan persaingan usaha.
Di tengah dilema hukum itu, mantan engineer Anthropic, Jacob Coxon, mengumumkan pengunduran dirinya minggu ini karena cemas atas risiko bagi kemanusiaan. “Orang-orang yang membangun AI betul-betul percaya ini bisa membunuh kita semua sebelum akhir dekade,” kata Coxon.
Dilema Berjalan Sendirian
Pada Februari 2026, OpenAI dan Anthropic diketahui melonggarkan komitmen keselamatan mereka masing-masing. CSO Anthropic, Jared Kaplan, berargumen bahwa mengerem laju sendirian tidak masuk akal selama pesaing terus maju. Duncan Sabien dari Machine Intelligence Research Institute menegaskan realitas persaingan itu. Sabien menyebut setiap kemajuan teknologi menghasilkan jutaan atau miliaran dana tambahan, sehingga mundur sendirian hanya berarti menyerahkan keunggulan ke tangan lawan.
Langkah menahan diri sebenarnya sempat diuji OpenAI dalam skala kecil. Pada Agustus 2026, perusahaan menghentikan proyek internal bernama Astra work yang tidak memiliki lapisan pelindung kuat akibat kekhawatiran keamanan siber. Tapi memaksakan rem serupa kepada seluruh kompetitor butuh perlindungan dari jeratan antimonopoli.
Campur Tangan Washington dan Urusan China
Merespon kebutuhan payung hukum, Senator Adam Schiff dan Jim Banks memperkenalkan rancangan undang-undang baru. Rancangan itu dibuat khusus untuk melindungi kolaborasi keamanan tertentu antar perusahaan AI, yang mengharuskan pemberitahuan ke Departemen Kehakiman. Langkah legislatif itu menggambarkan batas intervensi negara agar tidak merugikan daya saing nasional. Pada Mei, Presiden Trump sempat menunda perintah eksekutif AI karena khawatir pembatasan ketat akan melemahkan keunggulan Amerika Serikat atas China. Aturan itu baru ditandatangani pada Juni, dan hanya memuat mekanisme peninjauan sukarela untuk model canggih sebelum rilis perdana.
Selain urusan AI, Kongres juga dijejali persoalan pasar prediksi. Sejak Januari, lebih dari 10 RUU terkait prediction markets diajukan ke meja dewan. Aturan PREDICT Act akan melarang anggota Kongres dan pejabat senior untuk bertransaksi kontrak terkait peristiwa politik untuk meredam konflik kepentingan.
๐ Baca JugaGiliran Bank Terbesar Italia Buka Pintu - UniCredit Siapkan Layanan Trading Kripto dan Kustodi
Batas Tipis Keselamatan dan Kartel
Kolaborasi antar pengembang kini berada di posisi terjepit. Terus memacu pengembangan membawa ancaman eksistensial, tetapi bersepakat menahan laju berisiko melanggar undang-undang antimonopoli. Tanpa aturan main dari Kongres, industri kecerdasan buatan belum punya landasan legal untuk mengerem langkahnya.
Dilansir dari Decrypt.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




