Peter Brandt terbukti benar soal arah bawah, meski prediksinya meleset di kalender. Pada 19 Januari 2026, saat Bitcoin bertengger di sekitar $92.400, analis veteran ini memproyeksikan target penurunan ke rentang $58.000 sampai $62.000. Ia awalnya mengekspektasikan skenario ini terjadi dalam kurun waktu dua minggu. Meski rentang waktunya meleset jauh dari perkiraan awal, harga Bitcoin benar-benar mendarat tepat pada sasarannya.
Pada 1 Juli 2026, data Fortune mencatat Bitcoin menyentuh $58.278, dengan titik terendah harian sempat melorot hingga $57.717. Zona target Brandt akhirnya tervalidasi. Namun, arah angin berubah total tak lama setelah dasar itu terbentuk. Pada 23 Agustus 2026, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $76.600, melandai sesaat setelah sempat menembus angka $79.500 dua hari sebelumnya.
Sikap Bullish Pasca Breakout
Melihat perubahan tren yang berbalik, pandangan Brandt ikut berubah. Ketika Bitcoin membentuk pola inverse head-and-shoulders dan menembus garis resistance, ia menyatakan sikap bullish dan ikut membeli aset pada titik breakout ini. Perubahan arah pandangan ini selaras dengan efek domino yang terjadi di pasar derivatif.
Kenaikan awal harga Bitcoin memaksa para trader yang memasang posisi turun untuk bergegas melakukan penutupan posisi atau short covering. Begitu pergerakan harga melewati batas likuidasi mereka, proses pembelian paksa ini memberi dorongan tambahan yang membuat reli awal melaju lebih kencang.
Manuver Departemen Keuangan AS
Lonjakan ke level $79.500 tidak hanya didorong oleh teknikal pasar kripto murni. Pada 19 Agustus, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menggandakan operasi pembelian kembali obligasi, dari awalnya $2 miliar menjadi minimal $4 miliar. Kebijakan yang menyasar sektor obligasi bertenor 10 hingga 30 tahun ini akan mulai berlaku pada 9 September mendatang.
Pengumuman ini langsung menekan imbal hasil obligasi AS jangka panjang dan menurunkan nilai tukar dolar. Sebagai efek lanjutannya, aset alternatif seperti Bitcoin dan emas serempak mencatat reli tajam.
๐ Baca JugaPasar Rayakan Bitcoin $79.000 Pekan Ini - Tapi CEO Bitget Yakin Harga Bakal Mandek dan AS Takkan Beli Cadangan Baru
Squeeze Terbesar Sejak 2021
Kenaikan ini bukan sekadar pantulan teknis. Arus masuk dana ke pasar spot melalui produk ETF menjadi bukti adanya permintaan nyata dari investor, bukan hanya akibat dorongan dari bursa derivatif. Kombinasi antara likuidasi posisi short besar-besaran dan permintaan kuat dari institusi lewat ETF menciptakan salah satu short squeeze terbesar sejak tahun 2021.
Bagi para pengamat teknikal, kejadian ini memberi pesan jelas: pola grafik di atas kertas bisa saja meleset hitungan bulannya, tapi target harganya tetap menanti untuk diuji. Bagi investor, manuver makroekonomi dan dinamika derivatif terbukti masih jadi faktor pendorong pergerakan harga yang tidak bisa diabaikan. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




