Bitcoin jatuh di bawah batas psikologis $64.000 pada perdagangan hari Selasa menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve, sebelum akhirnya sedikit merangkak naik namun tetap tertahan persis di bawah angka itu. Koreksi tipis ini mencerminkan sikap pasar yang berhadapan dengan level ketidakpastian langka. Data dari CME FedWatch menunjukkan probabilitas 70% bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, sisa angka 30% membuka kemungkinan kenaikan mendadak sebesar 25 basis poin - sebuah kejutan yang siap mengguncang aset berisiko tinggi.
Akar dari ketegangan ini tidak lepas dari gaya kepemimpinan sang Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh. Menginjak pertemuan keduanya sebagai pimpinan bank sentral AS, Warsh dengan sengaja memangkas kebiasaan institusi merilis panduan ke depan (forward guidance). Keputusan ini otomatis mencabut kompas yang selama bertahun-tahun diandalkan investor untuk menerka langkah Fed berikutnya. Thahbib Rahman dari lembaga riset Block Scholes menilai fenomena ini tak biasa. Menurutnya, sejak 2015, hanya ada dua pertemuan Fed yang membuat pandangan para pelaku pasar terbelah sedalam hari ini mengenai hasil akhirnya.
Tekanan Institusional dan Ketahanan Harga
Sentimen bimbang ini juga tergambar jelas dari pergerakan uang institusional. ETF Bitcoin spot di bursa Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih mencapai $11,64 juta pada 27 Juli. Penarikan dana ini menandai sesi ketiga berturut-turut. Indikator teknikal turut memperlihatkan kondisi terjepit. Posisi harga Bitcoin kini berada di bawah rata-rata pergerakan harian (MA) 20 hari di level $64.449, tapi sekaligus bertahan tipis di atas batas MA 50 hari di kisaran $63.343. Sementara itu, indikator Chaikin Money Flow menunjukkan arus modal sedikit minus di -0,04, beriringan dengan RSI harian di angka 48,13 - posisi netral yang persis berada di bawah titik tengah.
Kendati ditekan arus modal keluar dan sentimen makro yang keruh, daya tahan kripto terbesar ini tidak bisa diabaikan. Sepanjang bulan Juli, Bitcoin membukukan kenaikan 6%. Kinerja hijau ini tampil kontras dengan indeks saham konvensional; S&P 500 nyaris tak bergerak di tempat, sementara saham di sektor semikonduktor babak belur dengan penurunan mendekati 20%.
Dua Skenario Berlawanan Menuju Agustus
Kunci pergerakan harga selanjutnya kini ada di tangan Fed. Skenario bernada hawkish dipastikan menjadi tekanan kuat bagi Bitcoin, karena kondisi ini memicu penguatan dolar AS sekaligus mengerek imbal hasil obligasi Treasury. Jika opsi ini yang diambil, pertahanan terdekat Bitcoin terancam turun ke level $62.500. Di sisi sebaliknya, pesan kebijakan yang kurang restriktif dapat menyuntikkan energi baru bagi aset ini guna memulihkan posisinya ke $65.200.
Meski ancaman jangka pendek belum reda, proyeksi jangka panjang masih memendam bahan bakar optimisme. Analis kripto Michaël van de Poppe menyatakan pergerakan awal Agustus bisa mengincar area $68.000, dengan potensi menembus batas $75.000. Sudut pandang teknikal serupa datang dari analis data on-chain Ardi yang menunjuk indikator MVRV Bitcoin saat ini di rasio 1,21. Angka ini menjauh dari titik terendah 0,69 dan 0,75 - zona yang dulu menjadi dasar bear market tajam di tahun 2018 dan 2022. Narasi pendukung turut dihembuskan WatcherGuru lewat cuitan yang mendulang 2.610 likes di media sosial, mengingatkan bahwa Bitcoin tinggal menyisakan 90.000 blok menuju peristiwa halving berikutnya.
📌 Baca JugaCore Scientific Putus Kontrak Mining Block - Tapi Kantongi Kesepakatan AI $14 Miliar dari AMD
Bagi pelaku ritel yang mencoba masuk sekarang, persiapkan sabuk pengaman yang kuat; rentang beberapa hari ini bukan soal menebak arah dengan tepat, melainkan seberapa siap modal anda menahan guncangan akibat pernyataan tunggal dari meja pimpinan Fed.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




