Ripple dan SettleMint mengumumkan kemitraan strategis pada 1 September 2026. Keduanya menggabungkan layanan kustodi aset digital institusional dengan alat penerbitan dan pengelolaan aset ter-tokenisasi.
Produk awal mereka menargetkan lembaga keuangan terregulasi di kawasan Asia Pasifik. Integrasi itu menggabungkan Ripple Custody dengan Digital Asset Lifecycle Platform (DALP) milik SettleMint. Penggabungan dua sistem ini bertujuan memberi bank, operator pasar keuangan, dan institusi satu fondasi lengkap. Fondasi itu mengurus kustodi, penerbitan, kepatuhan, penyelesaian, serta layanan pasca-penerbitan.
Keamanan Institusional Tanpa Paksaan Jaringan
Infrastruktur Ripple Custody membawa spesifikasi ketat. Sistemnya mendukung hardware security module (HSM) dan multi-party computation untuk manajemen kunci kriptografi. Platform kustodi itu juga sudah mengantongi sertifikasi FIPS 140-2 Level 4, standar ISO 27001, dan SOC 2 Type II.
Namun ada catatan bagi ekosistem XRP. Pengumuman kemitraan tak menyebutkan jaringan blockchain spesifik yang didukung. Kerja sama itu juga tak mewajibkan klien memakai XRP Ledger, koin XRP, ataupun stablecoin RLUSD - artinya langkah bisnis Ripple kali ini tidak menciptakan permintaan langsung terhadap token buatan mereka sendiri.
Mengejar Pasar $88 Triliun
Langkah bisnis Ripple sejalan dengan perkiraan besar dari Boston Consulting Group. Pada laporan Mei 2026, lembaga itu memproyeksikan nilai aset dunia nyata yang ter-tokenisasi bisa menembus $88 triliun pada 2035 dalam skenario progresif. Angka itu setara 16% dari seluruh aset investasi global. Sebagai perbandingan, aset tokenisasi yang terlihat publik baru berada di kisaran $30 miliar saat laporan dirilis.
Demi menyiapkan infrastruktur penopangnya, Ripple menambah mitra bertahap. Mereka mengakuisisi Palisade pada November 2025, menggandeng Securosys dan Figment pada Februari, lalu mengintegrasikan Chainalysis guna memantau transaksi. Sebelumnya, bank DBS bahkan sempat memasangkan reksa dana pasar uang ter-tokenisasi dengan RLUSD bersama Franklin Templeton dan Ripple.
Ujian Aset di Asia
Implementasi teknologi Ripple Custody sudah berjalan. Di Korea Selatan, perusahaan asuransi Kyobo Life tengah menguji penyelesaian obligasi pemerintah yang ter-tokenisasi memakai platform kustodi itu. Pengujian itu masih berstatus proyek percontohan, belum ada publikasi volume transaksi maupun tanggal pasti peluncuran komersialnya.
๐ Baca JugaSuntikan Dana Terkait Trump Jr. Bawa Valuasi Polymarket Tembus $21 Miliar - Saat 20 Negara Bagian AS Terus Menggugatnya
Pola kerja sama ini menegaskan satu tren nyata di sektor institusional: penyedia infrastruktur mengutamakan kelengkapan fungsi ketimbang loyalitas pada satu jaringan. Bagi para pemegang koin, ekspansi Ripple ke Asia membuktikan kekuatan perusahaan pembangunnya - namun adopsi perusahaannya tak lagi otomatis berarti adopsi bagi tokennya.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Robinhood Chain Kalahkan Fee Ethereum Dalam 2 Bulan - Rahasia RWA dan Memecoin
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




