Uang tunai digital yang jadi bahan bakar utama perdagangan kripto sedang menyusut, dan angkanya cukup untuk membuat siapa pun waspada. Sejak puncaknya di Mei, total nilai stablecoin yang beredar telah anjlok sekitar 10 miliar dolar AS (sekitar Rp163 triliun). Juni saja mencatat penyusutan 7,7 miliar dolar (sekitar Rp125 triliun) - jumlah dolar terbesar sejak Mei 2022, ketika Terra-Luna ambruk dan menyeret kripto ke musim dingin yang brutal.
Karena stablecoin adalah mata uang penyeimbang yang dipakai untuk membeli hampir semua aset kripto, menyusutnya pasokan mereka berarti likuiditas yang mengalir ke pasar ikut mengering. Tak heran kabar ini langsung menjadi sorotan para pengamat.
Dramatis di Angka, Tapi Kecil di Persentase
Meski terdengar mengerikan, penurunannya sebenarnya tergolong sopan menurut standar sejarah. Susut 10 miliar dolar itu hanya setara sekitar 3 persen - memang tren turun terbesar sejak 2023, tapi jauh dari amblasnya 26 persen pada 2022. Kala itu, kombinasi runtuhnya FTX, Celsius, BlockFi, dan Genesis membuat kapitalisasi stablecoin utama terjun dari sekitar 166 miliar dolar menjadi 122 miliar dolar. Keruntuhan TerraUSD sendirian saja menghapus 18 miliar dolar dari pasar.
Secara keseluruhan, pasar stablecoin justru stagnan di kisaran 300 miliar dolar sejak Oktober lalu - momen yang berbarengan dengan Bitcoin menyentuh rekor 126.000 dolar - setelah ukurannya lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun.
Kenapa Analis Ini Santai
“Penurunan kapitalisasi stablecoin belakangan ini adalah koreksi yang relatif kecil dalam pasar yang kami yakini tumbuh jangka panjang,” kata Paul Howard, direktur senior di firma trading Wincent. Ia menambahkan bahwa fluktuasi likuiditas jangka pendek adalah hal normal dan tak mengubah pandangannya bahwa peran stablecoin akan terus membesar.
📌 Baca JugaBank Wall Street Ini Kini Jual Bitcoin, Ethereum, dan Solana Langsung ke Nasabah Ritel - dan Itu Baru Permulaan
Ada pula sisi yang lebih bernuansa. Saat USDT milik Tether dan USDC milik Circle sama-sama menyusut, sejumlah pesaing kecil justru mekar. Global Dollar (USDG) terbitan Paxos yang didukung konsorsium termasuk Robinhood menembus 3,2 miliar dolar, sementara USDGO dari Anchorage nyaris menggandakan diri ke 900 juta dolar. Pemain baru seperti OpenUSD pun bersiap menantang dominasi dua raksasa lama.
Yang Perlu Dibaca dari Angka Ini
Secara historis, pertumbuhan stablecoin berjalan seiring dengan pasar naik karena mereka menyediakan daya beli segar di rantai. Ketika pasokannya menciut, satu angin pendorong ikut hilang - membuat kripto lebih sulit mempertahankan reli kecuali ada gelombang permintaan baru. Bagi investor, pergerakan pasokan stablecoin bukan sekadar statistik membosankan, melainkan salah satu termometer paling jujur untuk mengukur seberapa banyak uang benar-benar masuk atau keluar dari kripto.
Dilansir dari CoinDesk.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




