Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) membatalkan rapat terbuka yang dijadwalkan pada Jumat, 15 Agustus, untuk merilis kerangka aturan kripto pertama dan terbesar di era Ketua Paul Atkins. Rapat yang akan membahas rancangan “Regulation Crypto” ini mendadak dicoret dari kalender dengan alasan resmi masalah penjadwalan yang tidak terduga, tanpa menyertakan tanggal pengganti.
Regulasi ini awalnya dirancang untuk membuka kerangka kerja terbatas. Tujuannya memberi ruang bagi proyek kripto untuk menawarkan sekuritas tanpa langsung memicu kewajiban registrasi penuh di SEC. Aturan ini juga menyiapkan jalur keluar resmi dari pengawasan regulator bagi proyek kripto yang sudah membuktikan tingkat desentralisasinya.
Batalnya agenda penting ini sejalan dengan penundaan lain di lembaga yang sama. Aturan pengecualian inovasi untuk tokenisasi saham juga dikabarkan kembali tertunda, meski sebagian porsinya dijadwalkan rilis pada minggu ini. Tiga sumber internal industri mengungkap bahwa Gedung Putih merasa khawatir aturan pengecualian ini bisa memancing kegaduhan politik. Mereka tidak ingin mengambil risiko saat Kongres masih berada di tengah negosiasi rancangan Digital Asset Market Clarity Act.
Kenapa Wall Street Khawatir?
Sikap kehati-hatian Gedung Putih bukan satu-satunya penghalang. Asosiasi Industri Sekuritas dan Pasar Keuangan (SIFMA), kelompok lobi utama Wall Street, menjadi salah satu pihak yang menahan laju aturan ini. SIFMA khawatir tempat perdagangan aset berbasis blockchain akan bertabrakan dengan aturan Regulation NMS, khususnya pada bagian Aturan Perlindungan Pesanan.
Fokus kekhawatiran SIFMA terletak pada standar operasional broker. Mereka menilai aturan kewajiban broker untuk mencari kualitas eksekusi harga terbaik bagi nasabah akan menjadi buram dan sulit diterapkan ketika transaksi diproses melalui bursa terdesentralisasi atau mekanisme pembuat pasar otomatis (AMM).
Kondisi ini sedikit bertentangan dengan sinyal SEC sebelumnya. Pada Juni 2026, lembaga ini sudah mengusulkan penghapusan Aturan 611 dari Reg NMS. Rencana pencoretan Aturan Perlindungan Pesanan itu sebenarnya dilihat oleh banyak pihak di industri sebagai langkah menghapus hambatan paling berat bagi laju tokenisasi aset.
๐ Baca JugaGedung Putih Kumpulkan Bos Kripto dan Pasar Prediksi - Tepat 24 Jam Sebelum Rapat CFTC
Menahan Pasar Bernilai $5,5 Triliun
Potensi dana yang tertahan akibat penundaan regulasi ini bernilai besar. Analis Citi memproyeksikan pasar aset tokenisasi bisa mencapai angka $5,5 triliun pada tahun 2030. Infrastruktur pasar tradisional pun sudah mulai beradaptasi untuk menampung sistem baru ini. DTCC, institusi yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan sekuritas AS, telah memproses transaksi produksi langsung perdana untuk sekuritas tokenisasi pada bulan lalu.
Kini penentu jalannya inovasi ini kembali berada di tangan politisi Senat AS. Nasib rancangan Digital Asset Market Clarity Act masih menggantung dan belum pasti sanggup melewati ambang batas 60 suara pada sesi bulan September. Selama kepastian dari sisi undang-undang belum selesai, aturan yang melindungi inovasi tokenisasi saham tampaknya masih akan tertahan di laci meja regulator.
Dilansir dari CoinDesk.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




