📅 Sabtu, 1 Agustus 2026 · --:-- WIB Ikuti kami
Ecosystem
ID
Tether Borong 14 Ton Emas Usai Cetak Laba $1,5 Miliar - Saat USDT Kuasai 60% Pasar Kripto

Tether Borong 14 Ton Emas Usai Cetak Laba $1,5 Miliar - Saat USDT Kuasai 60% Pasar Kripto

Para pembeli emas dalam jumlah besar kini bukan cuma bank sentral. Tether, penerbit stablecoin USDT, mencetak laba operasi bersih $1,5 miliar pada kuartal kedua 2026 dan memakai sebagian dananya untuk memborong tambahan 14 ton emas fisik.

Laporan terbaru menunjukkan total aset yang dikelola Tether kini menyentuh $187,7 miliar, dengan cadangan berlebih mencapai $4,1 miliar. Sumber utama keuntungan mereka tidak datang dari biaya transaksi kripto, melainkan dari bunga portofolio surat utang pemerintah AS dan operasi repo jangka pendek. Eksposur besar pada surat utang jangka pendek ini membuat tingkat profitabilitas Tether sensitif terhadap arah kebijakan The Federal Reserve.

Di ranah kripto, posisi dominan mereka makin kokoh. Pasokan USDT beredar mencapai $184,6 miliar pada akhir Juni 2026, memberi Tether lebih dari 60% pangsa pasar stablecoin global. Mereka juga melaporkan penambahan 30 juta pengguna baru di seluruh dunia sepanjang kuartal kedua.

Emas, Bitcoin, dan Penurunan Pinjaman

Meski USDT jadi produk andalan, neraca Tether menunjukkan diversifikasi aset yang terus berjalan. Dengan pembelian terbaru, kepemilikan emas fisik mereka melampaui 146 ton. Menurut laporan WatcherGuru di platform X, nilai timbunan emas ini setara dengan $18,8 miliar. Selain emas, simpanan Bitcoin milik perusahaan bernilai sekitar $5,8 miliar per akhir Juni.

Bersamaan dengan akumulasi aset ini, Tether mulai mengerem aktivitas peminjaman. Mereka memangkas jumlah pinjaman beragun sebesar $2,4 miliar selama kuartal kedua. Detail operasi ini masih tertutup; perusahaan tidak merinci identitas pihak peminjam maupun jenis aset agunan transaksinya.

Perusahaan juga meluncurkan USAT, produk stablecoin yang difokuskan untuk pasar AS. Token ini meluncur di Celo sebagai mainnet kedua setelah Ethereum. Berkat proposal Celo CIP-64, pengguna bisa mencetak USAT tanpa jembatan perantara pihak ketiga dan memakainya langsung untuk membayar biaya gas.

Ekspansi ke Afrika di Tengah Penantian Audit

Perluasan bisnis Tether merambah ke infrastruktur keuangan tradisional. Pada 28 Juli, mereka menandatangani nota kesepahaman dengan Bursa Efek Nairobi (NSE) di Kenya untuk menjajaki sistem pasar blockchain, sekuritas yang ditokenisasi, dan edukasi aset digital.

Laba Tether Tembus $1,5 Miliar di Q2 - Rahasia Mesin Uang di Balik Timbunan 146 Ton Emas📌 Baca JugaLaba Tether Tembus $1,5 Miliar di Q2 - Rahasia Mesin Uang di Balik Timbunan 146 Ton Emas

Sampai tulisan ini disusun, dokumen kesepakatan itu belum mengotorisasi penerbitan sekuritas digital atau mewajibkan penggunaan USDT di bursa. Semua realisasi masih bergantung pada persetujuan badan pengawas setempat.

Sementara Tether sibuk berekspansi ke benua Afrika dan memborong emas, pasar masih menunggu pemenuhan janji lama mereka. Perusahaan menyatakan sedang bersiap menjalani audit penuh dari firma akuntan Big Four. Bagi pemegang stablecoin bernilai ratusan miliar dolar ini, pertanyaannya tinggal satu: kapan persisnya audit terwujud, mengingat perusahaan belum merilis tanggal pastinya.

Dilansir dari crypto.news.

Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.

Gimana reaksimu?
Bagikan artikel ini:
📩 KABAR BITCOIN 1 MENIT

Berita kripto harian, langsung ke inbox

Ringkasan 1 menit untuk kamu yang selalu bergerak. Gratis, kapan saja bisa berhenti.

Total
0
Share