Di tengah suasana pasar yang lesu dan harga Bitcoin yang tersangkut di kisaran $63.000, seorang analis kawakan justru menyampaikan kabar yang bikin sebagian trader menegakkan telinga: menurutnya, fase terburuk mungkin sudah lewat separuh jalan. ‘Saya rasa kita sudah melewati sebagian besar aksi pasar beruang. Jelas belum selesai. Tapi setidaknya kita mendekati paruh kedua,’ kata Jamie Coutts, kepala analis kripto Real Vision, dalam wawancara di kanal Trade Secrets milik Cointelegraph.
Kenapa Ia Yakin Titik Baliknya Dekat
Coutts menyebut kondisi Bitcoin saat ini sebagai ‘pasar beruang biasa-biasa saja’. Harganya kini sekitar 50 persen di bawah rekor tertinggi $126.100 yang dicetak Oktober 2025. Menariknya, volatilitas Bitcoin turun sekitar 50 persen dibanding siklus sebelumnya - petunjuk bahwa penurunan kali ini boleh jadi tidak seganas era-era sebelumnya.
Sinyal paling menarik datang dari indikator momentum. ‘Saya mulai melihat divergensi bullish muncul di kerangka waktu yang lebih panjang. Itu memberi tahu saya bahwa momentum negatifnya sedang melambat,’ ujarnya. Ia buru-buru menambahkan bahwa melambatnya tekanan jual bukan berarti pasar beruang sudah tamat secara teknikal - semua indikator tren, katanya, masih jelas-jelas bearish.
Angka yang Ia Berani Sebut - dan yang Ia Tolak
Saat ditanya soal ramalan Bitcoin tembus $1 juta pada 2030 ala CEO Coinbase Brian Armstrong dan bos ARK Invest Cathie Wood, Coutts memilih berhati-hati. ‘Model yang saya pakai memang menunjukkan sekitar sejuta pada 2032 atau 2033. Itu tergantung seberapa banyak uang yang harus dicetak sampai saat itu,’ katanya. Untuk jangka lebih pendek, ia jauh lebih nyaman: Bitcoin diperkirakan mencapai $200.000 hingga $250.000 (sekitar Rp3,2 miliar sampai Rp4 miliar per keping) dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Ada dua faktor liar yang ia soroti. Pertama, kecerdasan buatan: seiring makin banyak dompet dibuat untuk agen AI, ke mana mereka akan menyimpan nilainya, dan apakah keputusannya akan sama seperti manusia? Kedua, ancaman komputasi kuantum. Coutts terang-terangan menyebut para pengembang Bitcoin yang meremehkan ancaman ini berada ‘di sisi yang salah’, dan komunitas perlu mengambil langkah tegas paling lambat 2027.
📌 Baca JugaCZ Sindir Taruhan AI $725 Miliar Wall Street: ‘AI Tak Melindungimu dari Inflasi, Bitcoin Bisa’
Yang perlu dicerna baik-baik dari pandangan Coutts bukan angka fantastisnya, melainkan nuansanya: ia tidak sedang menjanjikan roket ke bulan besok pagi. Ia bilang tren masih menunduk, tapi lajunya melambat - sebuah pembedaan yang sering diabaikan trader yang cuma melihat warna merah di layar. Bagi yang sabar, sinyal ‘melambatnya kejatuhan’ kadang jauh lebih bermakna ketimbang teriakan ‘sudah dasar’.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




