Bayangkan sebuah perusahaan menutup gugatan hukum yang menghantuinya selama lima tahun, mengakuisisi pialang prima senilai $1,25 miliar (sekitar Rp20 triliun), menembus jantung infrastruktur kliring saham Amerika, dan meraih izin resmi di tiga benua - semua dalam satu tahun. Lalu bayangkan token andalannya justru terjun ke harga terburuk sejak pasar beruang 2022. Itulah yang sedang terjadi pada Ripple dan XRP saat ini, dan jaraknya belum pernah selebar ini.
Menurut laporan crypto.news, 12 bulan terakhir adalah periode paling produktif dalam sejarah Ripple sebagai perusahaan. Tapi bagi sebagian besar pemegang XRP, 12 bulan yang sama adalah mimpi buruk. Pertanyaan besar yang kini menggantung di atas ekosistem kripto terbesar keempat dunia itu sederhana: jurang ini akan tertutup lewat harga yang naik, atau lewat narasi yang runtuh?
Tumpukan Kabar Baik yang Diabaikan Pasar
Daftarnya panjang dan mengesankan. Gugatan SEC yang diajukan sejak Desember 2020 akhirnya rampung lewat penyelesaian finansial pada 2025. Ripple menuntaskan akuisisi pialang Hidden Road dan menamainya Ripple Prime, lalu pada Maret 2026 masuk ke direktori peserta National Securities Clearing Corporation - lembaga yang mengkliring mayoritas transaksi saham AS dan menjaga aset senilai sekitar $100 triliun.
Di sisi ledger, aset tokenisasi di XRPL melonjak dari $991 juta pada 1 Januari menjadi $3,5 miliar (sekitar Rp57 triliun) di pertengahan tahun. Bahkan JPMorgan, Mastercard, dan Ondo Finance ikut menuntaskan penebusan surat utang AS tertokenisasi pertama di XRPL - selesai dalam waktu di bawah lima detik. Stablecoin RLUSD milik Ripple menembus kapitalisasi $1,72 miliar dalam kurang dari setahun, memindahkan lebih dari $18 miliar hanya di kuartal pertama. Ditambah izin penuh MiCA pada 6 Juli yang membuka akses ke 30 negara kawasan ekonomi Eropa sekaligus.
Yang bikin merinding para pendukung: tidak satu pun dari kabar baik itu menggerakkan harga. Izin MiCA malah memicu penurunan 3 persen dalam sepekan. Tonggak sejarah di DTCC lewat tanpa satu candle pun. Uji coba penebusan Treasury bareng JPMorgan - mungkin momen paling penting dalam sejarah XRPL - nyaris tak terlihat di grafik.
Mekanisme yang Ternyata Sangat Tipis
Di sinilah tesis paling tidak nyaman itu muncul. Ripple sebagai perusahaan menghasilkan uang dari pembayaran, kustodi, pialang prima, dan bunga stablecoin. Nyaris tidak ada dari pendapatan itu yang mengharuskan harga XRP berada di angka tertentu. Rilis resmi lisensi MiCA-nya bahkan cuma menyebut XRP satu kali, di bagian boilerplate.
📌 Baca JugaWhale Terkait a16z Berbalik Jadi Penjual, Setor 28 Juta Dolar Token HYPE ke Bursa - Harga Ambles 12%
Ripple Payments telah memindahkan lebih dari $100 miliar lintas 60-an pasar, tapi mayoritas diselesaikan dalam mata uang fiat atau RLUSD. Saat pun melewati XRP Ledger, biaya yang ‘dibakar’ per transaksi hanya sepersekian sen - artinya 3 juta transaksi harian menyusutkan pasokan token dengan laju yang setara angka pembulatan belaka. Ironisnya, strategi stablecoin justru bersaing langsung dengan narasi ‘aset jembatan’ yang dulu menjadi alasan utama token ini bernilai.
Satu Variabel yang Menentukan Segalanya
Uniknya, cuma ada satu jenis kabar yang direspons pasar: legislasi. XRP melompat 4,5 persen dalam sejam saat CLARITY Act lolos komite pada 14 Mei, lalu lesu ketika target penandatanganan 4 Juli meleset. Pasar seolah sudah memberi tahu semua orang apa yang ditunggunya - dan itu bukan tambahan lisensi.
Ramalan para analis pun terpecah lebar tak lazim: dari $1,70 hingga $28, tergantung seberapa besar bobot yang mereka beri pada adopsi institusional. Ketika input yang sama menghasilkan jawaban sejauh itu, artinya pasar bukan sedang bingung - melainkan menunggu satu kepastian yang tak bisa disediakan oleh perusahaan maupun grafik: kejelasan status hukum token itu sendiri. Sampai palu itu diketuk, kerajaan yang dibangun Ripple dan harga XRP mungkin memang akan terus berjalan di dua jalur terpisah.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




