📅 Selasa, 4 Agustus 2026 · --:-- WIB Ikuti kami
Ecosystem
ID
Apple Hapus Telegram dari App Store Global - Pengguna Lama Aman, Tapi Pintu Masuk Kripto Tertutup

Apple Hapus Telegram dari App Store Global - Pengguna Lama Aman, Tapi Pintu Masuk Kripto Tertutup

Aplikasi perpesanan Telegram mendadak lenyap dari Apple App Store di seluruh dunia. Laporan hilangnya platform ini berawal dari cuitan akun @WatcherGuru di X, yang langsung mengumpulkan 27.730 likes dan 2.761 retweet. Kabar ini dengan cepat menjadi salah satu topik paling viral hari ini di tengah komunitas kripto global, termasuk basis pengguna besar di Indonesia.

Dampak langsung penghapusan oleh Apple ini membelah pengguna berdasarkan status perangkat. Bagi pengguna iOS yang baru berniat mengunduh, pintu kini tertutup dan mereka tidak bisa lagi menemukan Telegram di toko aplikasi resmi. Namun bagi pemilik iPhone yang sudah menginstal aplikasi ini sebelumnya, sistem milik Apple masih mengizinkan mereka memakai fitur Telegram seperti biasa tanpa pemutusan akses sepihak.

Pusat Koordinasi yang Kini Terbatas

Hilangnya Telegram dari etalase utama Apple membawa dampak nyata pada rutinitas industri kripto. Selama bertahun-tahun, platform ini bukan sekadar alat obrolan, melainkan wadah koordinasi sentral bagi berbagai sektor mulai dari desentralisasi keuangan (DeFi), perdagangan NFT, hingga pengembangan proyek kripto baru di berbagai belahan dunia.

Para penggerak proyek dan investor amat bergantung pada ekosistem grup di aplikasi ini. Mayoritas aktivitas kunci seperti pembagian sinyal trading, diskusi arah pasar, presale token, hingga kampanye airdrop berpusat di saluran Telegram. Ketiadaan jalur unduhan bagi perangkat Apple baru membawa hambatan adopsi bagi proyek kripto anyar yang mengandalkan kemudahan Telegram untuk menjaring peserta komunitas awal.

Apa Pemicu Langkah Apple?

Hingga informasi ini beredar luas, belum ada pernyataan resmi yang memuat alasan pasti di balik kebijakan Apple menghapus Telegram. Namun rekam jejak aplikasi ini tidak pernah jauh dari persoalan hukum. Telegram tercatat berulang kali berhadapan dengan regulator di berbagai negara, dengan titik kritik menumpuk pada isu enkripsi data dan minimnya penyaringan konten pengguna.

Ketegangan soal kontrol konten ini pernah berujung pada penangkapan petinggi perusahaan. Pada 2024 lalu, otoritas hukum Prancis menahan pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov. Penahanan tokoh sentral ini berkaitan erat dengan masalah moderasi konten yang bergulir di dalam jaringan platformnya.

BlackRock Rilis Dua Dana Tokenisasi Baru - Target Utamanya Adalah Monopoli Cadangan Stablecoin $300 Miliar📌 Baca JugaBlackRock Rilis Dua Dana Tokenisasi Baru - Target Utamanya Adalah Monopoli Cadangan Stablecoin $300 Miliar

Kini pelaku pasar kripto berhadapan dengan satu kenyataan mendesak. Infrastruktur komunikasi andalan mereka - yang bertahun-tahun mengawal gagasan desentralisasi - rupanya tetap menumpang di atas lahan platform pihak ketiga yang aturannya bisa berubah kapan saja tanpa persetujuan awal.

Dilansir dari @WatcherGuru di X.

Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.

Gimana reaksimu?
Bagikan artikel ini:
📩 KABAR BITCOIN 1 MENIT

Berita kripto harian, langsung ke inbox

Ringkasan 1 menit untuk kamu yang selalu bergerak. Gratis, kapan saja bisa berhenti.

Total
0
Share