Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada operasi perbankan bayangan asal Rusia, A7 Network, setelah menelusuri aliran dana kripto mereka. Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri AS (OFAC) menetapkan A7 sebagai organisasi kriminal transnasional signifikan karena terbukti membantu Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menghindari sanksi ekonomi.
Penelusuran terbaru mengungkap skala operasi jaringan itu jauh melebihi perkiraan awal. Antara Februari 2025 hingga Juni 2026, lebih dari 180 entitas memproses dana sedikitnya $179,1 miliar lewat token A7A5. Angka itu jauh lebih tinggi dari temuan AS sebelumnya yang hanya melacak aliran dana fiat sebesar $17 miliar antara Januari 2025 hingga Juni 2026. A7 sendiri pernah mengklaim volume historis mencapai 7,5 triliun rubel atau sekitar $91,5 miliar - setara seperdelapan total perdagangan luar negeri Rusia tahun lalu.
Token Rubel di TRON dan Ethereum
A7A5 berfungsi sebagai token kripto bernilai rubel yang diterbitkan oleh Old Vector, entitas terdaftar di Kirgizstan. Token itu berjalan di atas jaringan blockchain TRON dan Ethereum, dengan seluruh dana deposito dikelola oleh Promsvyazbank, bank pertahanan milik negara Rusia. Jaringan A7 mulai beroperasi pada September 2024 dari hasil kerja sama Promsvyazbank dan Ilan Shor, oligarki asal Moldova yang berstatus buronan.
Pelaku memanfaatkan A7A5 sebagai alat tukar yang kebal dari pembekuan otoritas barat. Mereka menukar token rubel itu menjadi stablecoin USDT sebelum mencairkannya ke mata uang fiat. Rekam jejak transaksi historis mereka paling banyak mengalir lewat Garantex dan Grinex - dua bursa kripto yang sudah lebih dulu masuk daftar sanksi AS.
Menyamarkan Lokasi dari Moskow
Jaringan A7 memiliki ratusan Sub-Agen yang mengelola rekening di sekitar 435 lembaga keuangan di sedikitnya 83 negara. Untuk menutupi operasi mereka, staf A7 mengendalikan semua akun langsung dari Moskow menggunakan jaringan VPN khusus. Taktik itu memanipulasi sistem pelacakan bank sehingga instruksi tampak dikirim dari Dubai, Hong Kong, atau Bishkek.
Penyelidikan aliran dana mengarah pada entitas yang terhubung dengan armada tanker bayangan Iran. Satu Sub-Agen A7 dan perusahaan saudaranya menerima hampir $140 juta dari pihak-pihak yang masuk daftar penghindar sanksi Iran. Selain itu, AS melacak pengiriman uang sekitar $1,6 juta ke perusahaan yang mengurus pengadaan senjata.
๐ Baca JugaAS Jatuhkan Sanksi Jaringan Bayangan Rusia Usai Telusuri $17 Miliar - Operasinya Tembus 83 Negara Termasuk Indonesia
Jerat Baru untuk Bursa Kripto
Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan (FinCEN) mengeluarkan usulan aturan baru untuk menutup celah operasi ini sepenuhnya. Beleid itu melarang semua transfer dana yang melibatkan Sub-Agen A7, baik dalam bentuk uang fiat maupun kripto. Usulan ini akan mengikat sekitar 348.000 institusi keuangan di seluruh dunia, termasuk bursa penukaran kripto.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mempertegas sikap negaranya terhadap entitas yang melanggar aturan. “Kalau kamu memfasilitasi keuangan ilegal untuk musuh Amerika, kamu akan kehilangan akses ke sistem keuangan AS,” katanya. Aturan baru dan sanksi blokade ini memastikan infrastruktur blockchain tidak bisa lagi dipakai leluasa untuk menghindari sanksi internasional.
Dilansir dari Decrypt.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




