Network School milik Balaji Srinivasan resmi mengambil alih platform media sosial terdesentralisasi Farcaster dari Neynar pada 15 Oktober 2026. Farcaster kini berganti nama menjadi Network State Protocol, membawa model operasional baru yang mewajibkan pengguna menyetujui kontrak sosial (social smart contract) dan kode etik komunitas (Network Code).
Peralihan kepemilikan bukan sekadar pergantian merek, melainkan penataan ulang terhadap cara platform mengelola interaksi para penggunanya.
Tiga Tingkatan Pelanggaran dan Pemindaian AI
Aturan baru mengklasifikasikan pelanggaran ke dalam tiga tingkatan: kejahatan berat digital (digital felonies), pelanggaran sedang (misdemeanors), dan pelanggaran ringan (infractions). Sanksi yang disiapkan berjenjang, mulai dari peringatan, penangguhan, hingga pemblokiran permanen.
Dampaknya langsung terasa di linimasa. Sejumlah pengguna melaporkan akun mereka mendadak diubah menjadi mode baca saja (read-only) akibat postingan lama yang dinilai melanggar aturan baru. Tindakan pembatasan ini bahkan menimpa akun milik mantan insinyur Farcaster dan tokoh komunitas kawakan.
Balaji mengonfirmasi bahwa peninjauan moderasi memanfaatkan kombinasi kurator manusia dan analisis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini memindai jutaan postingan historis yang tersimpan sejak awal jaringan beroperasi.
Mengapa Meniru Ketertiban Singapura
Balaji membela kebijakan penertiban itu dengan menyatakan ambisinya membangun ‘Singapura di media sosial’ yang menjunjung hukum dan ketertiban (law and order). Ia bahkan membandingkan tindakan tegasnya dengan kebijakan penumpasan kejahatan Presiden Nayib Bukele di El Salvador.
Langkah itu menuai kecaman terbuka. Mantan pimpinan ekosistem India di Eigen Labs, Kunal Gandhi, mengkritik keras kebijakan itu. Gandhi menyebut pembatasan akun lama karena riwayat masa lalu sebagai tindakan konyol yang mencederai etos desentralisasi.
Bagi Farcaster, akuisisi oleh Network School merupakan pergantian kepemilikan kedua pada tahun 2026. Platform ini sebelumnya mencatat sekitar 250.000 pengguna aktif bulanan pada Desember 2025.
Pilihan bagi Pengguna yang Menolak Aturan Baru
Network School tidak berhenti pada penertiban percakapan daring. Visi jangka panjang lembaga ini menargetkan komunitas daring Farcaster berkembang menjadi pertemuan fisik, kota rintisan (startup cities), hingga pembentukan negara jaringan (network states).
๐ Baca JugaLedger Rilis Ponsel Kripto Atom $849 Pasca-Bobol $93 Juta - Korban Lama Tak Dapat Tukar Tambah
Kendati demikian, Balaji menegaskan protokol dasar Farcaster tetap terbuka. Pengguna yang menolak menandatangani aturan baru tetap memegang kendali atas aset mereka. Kunci privat, pengikut, dan konten lama tetap berada di tangan pengguna untuk dibawa ke aplikasi klien lain di luar kendali Network School.
Bagi pengguna yang menolak tunduk pada disiplin baru ala Balaji, batas pilihannya jelas: menyetujui kontrak sosial yang ditentukan, atau membawa kunci privat mereka keluar ke aplikasi lain.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Samsung Buka Transfer USDC di 82 Juta Ponsel Galaxy AS - Tapi Bukan Samsung yang Pegang Dananya
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




