📅 Minggu, 26 Juli 2026 · --:-- WIB Ikuti kami
Ecosystem
ID
Binance Retas Karyawannya Sendiri Tiap Bulan - Sering Gagal Bisa Berujung Pemecatan

Binance Retas Karyawannya Sendiri Tiap Bulan - Sering Gagal Bisa Berujung Pemecatan

📚 Istilah di Artikel Ini:

Sebuah serangan siber terjadi di dalam jaringan bursa kripto terbesar di dunia setiap bulannya. Namun, pelakunya bukan kelompok peretas dari luar, melainkan tim keamanan internal perusahaan itu sendiri. Binance menjalankan program khusus untuk menyerang karyawannya dengan simulasi taktik rekayasa sosial (phishing) guna memantau perkembangan kedisiplinan keamanan digital mereka.

Chief Security Officer Binance, Jimmy Su, membeberkan praktik ini dalam wawancaranya. Perusahaan mengoperasikan red team internal yang bertindak sebagai unit peretas etis untuk mencari titik lemah sistem dari dalam. Operasi yang sudah berjalan 3-4 tahun ini memiliki tanggung jawab besar, mengingat Binance kini menaungi 323 juta pengguna terdaftar dan mengelola aset senilai $137,7 miliar merujuk pada estimasi DefiLlama.

Skenario Palsu Berujung Pemecatan

Dalam menjalankan aksinya, red team Binance menggunakan beragam metode. Skenario yang rutin dicoba adalah menyamar sebagai perekrut yang menawarkan lowongan pekerjaan, atau mengirimkan undangan konferensi gratis guna memancing korban menyerahkan informasi pribadi. Karyawan yang termakan jebakan simulasi ini wajib menjalani pelatihan perbaikan.

Bagi staf yang mengabaikan peringatan, risikonya fatal. Jimmy Su menegaskan bahwa kegagalan berulang dan parah dalam ujian simulasi ini akan menurunkan tingkat evaluasi kinerja sampai ke batas paling bawah (bottom out). Pada tahap itu, karyawan bisa dipecat. Kebijakan ini memastikan setiap staf selalu menjaga ketelitian, karena hasil tes tercermin langsung dalam tinjauan kinerja yang menjadi dasar kompensasi mereka.

Manusia Sebagai Celah Termanis

Tingkat ketegasan Binance berakar dari pola pembobolan industri yang makin menyasar individu. Pada Februari 2026, AMLBot memperkirakan 65% insiden keamanan kripto sepanjang tahun 2025 didorong oleh taktik rekayasa sosial. Pelaku kejahatan kini lebih suka memanipulasi staf pengelola jaringan alih-alih menembus lapis perlindungan kode.

Hacker Korea Utara Pakai Rapat Zoom Palsu untuk Cek Dompet Kripto - Inilah Alasan 80% Korbannya Pekerja Web3📌 Baca JugaHacker Korea Utara Pakai Rapat Zoom Palsu untuk Cek Dompet Kripto - Inilah Alasan 80% Korbannya Pekerja Web3

Dampaknya mahal. Drift Protocol kehilangan dana $285 juta pada April 2026 setelah diterpa kampanye rekayasa sosial yang berjalan panjang. Taktik serangan yang tak kalah populer adalah “Zoom meeting attack”, di mana peretas menipu korban untuk memasang pembaruan panggilan video palsu berbalut malware. Jebakan model ini memakan korban pengguna Venus Protocol pada September 2025, yang lenyap asetnya sekitar $13 juta akibat instalasi klien Zoom berbahaya yang menyusup ke komputernya.

Ketika uang ratusan juta dolar bisa raib hanya lewat satu tautan jebakan, perangkat tembok api tidak punya arti tanpa kewaspadaan pengguna di baliknya. Ujian bulanan dari rekan kerja sebelah ini dipastikan menjadi rutinitas wajib untuk mencegah kunci akses sistem jatuh ke tangan pihak tak bertanggung jawab.

Dilansir dari Cointelegraph.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.

Gimana reaksimu?
Bagikan artikel ini:
📩 KABAR BITCOIN 1 MENIT

Berita kripto harian, langsung ke inbox

Ringkasan 1 menit untuk kamu yang selalu bergerak. Gratis, kapan saja bisa berhenti.

Total
0
Share