Salah satu bursa kripto terbesar di dunia nyaris kebobolan dari dalam. Namun pelakunya bukan kelompok peretas asing, melainkan unit internal mereka sendiri. Selama empat tahun terakhir, Binance sengaja melancarkan serangan phishing palsu ke karyawannya setiap bulan untuk menguji ketahanan lapis pertahanan manusia mereka.
Fakta ini diungkapkan oleh Chief Security Officer Binance, Jimmy Su. Menurutnya, serangan ini dieksekusi langsung oleh ‘red team’ - tim peretas etis internal perusahaan. Karyawan yang terjebak dan gagal dalam tes ini tidak dibiarkan begitu saja. Mereka diwajibkan mengikuti program pelatihan remedial. Tapi bagi mereka yang terus-menerus gagal, pintu keluar sudah disiapkan: pemecatan.
“Kami melakukan phishing attack pada karyawan kami setiap bulan supaya kami tahu apakah security hygiene kami meningkat,” kata Su.
Kenapa Menargetkan Tim Sendiri?
Taktik keras ini bukan tanpa alasan. Data dari AMLBot pada Februari 2026 menunjukkan bahwa 65% insiden keamanan kripto sepanjang tahun 2025 bersumber dari rekayasa sosial atau social engineering. Artinya, peretas tidak lagi repot meruntuhkan sistem enkripsi - mereka cukup mengelabui karyawan yang memegang akses ke dompet klien atau server penting.
Masalah keamanan dan kepatuhan ini juga menjalar cepat ke berbagai negara di kawasan Asia. Di Korea Selatan, regulator baru saja menghapus 29 aplikasi bursa kripto yang tak berlisensi dari Google Play, termasuk nama besar seperti OKX, Bybit, MEXC, Kucoin, Gemini, Backpack, dan BitMEX. Sementara itu, Thailand tak kalah sibuk. Otoritas setempat menggerebek tujuh operasi penambangan Bitcoin ilegal dan menyita lebih dari 1.900 mesin mining yang terbukti melakukan pencurian listrik skala besar. Komisi Sekuritas Thailand juga resmi menggugat dua mantan direktur Bitkub atas laporan palsu terkait peretasan aset senilai $50 juta pada tahun 2021 silam.
📌 Baca JugaMalware SparkKitty Tembus Filter Apple dan Google Play - Modusnya Mengincar Galeri Foto
Aksi Serentak Lintas Negara
Selain penertiban bursa, tekanan hukum datang dari segala arah. India kini mewajibkan bursa kripto melaporkan semua transaksi pengguna ke departemen pajak. Langkah lain pemerintah India yang memaksa GitHub menghapus repositori BitChat - aplikasi pesan desentralisasi berbasis Bluetooth yang beroperasi tanpa server saat internet mati - langsung menuai kecaman keras dari Internet Freedom Foundation sebagai tindakan inkonstitusional.
Bahkan Korea Utara yang sering dikaitkan dengan kejahatan kripto global ikut bertindak tegas di kandangnya. Mereka menangkap sekelompok mantan operator siber negaranya sendiri dengan tuduhan meretas dua bank negara dan mencuci hasil curiannya lewat kripto. Di balik layar penertiban keras ini, adopsi institusional justru terus melaju. KB Kookmin Bank bersiap meluncurkan layanan pembayaran lintas batas untuk bisnis impor dan ekspor bulan Agustus mendatang menggunakan jaringan Kinexys JPMorgan, bertepatan dengan bursa lokal Korbit yang akan berganti nama menjadi Digital X. Di tempat lain, Bank BPI Filipina tengah mematangkan jalur penyelesaian berbasis stablecoin yang dirancang khusus untuk pembayaran pekerja lepas.
Paranoia Sebagai Lapisan Keamanan
Langkah Binance menjadikan karyawannya sendiri target phishing bulanan mungkin terdengar menekan. Namun di industri di mana satu kelalaian kecil bisa menguras dana nasabah, rasa awas adalah tameng utama. Peretasan tak selalu datang dari peretas luar yang menjebol tembok pertahanan - kadang pintu itu dibuka sendiri oleh karyawan yang salah klik tautan di komputer mereka. Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




