Bitcoin nyaris menyentuh $80.000 hanya beberapa jam setelah rilis data inflasi Amerika Serikat untuk bulan Agustus. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang sejalan dengan konsensus pasar memicu pembalikan arah harga yang cepat, mengabaikan ketegangan di pasar obligasi yang sempat menyentuh rekor tertingginya dalam 22 tahun.
Data CPI Agustus menunjukkan inflasi berada di 3,4% dari tahun ke tahun (yoy) dan 0,4% dari bulan ke bulan (mom). Angka headline ini persis seperti ekspektasi pasar. Di sisi lain, inflasi inti (core CPI) tahunan turun tipis dari 2,5% menjadi 2,4%, menandai level terendahnya sejak 2021. Inflasi inti bulanan tercatat 0,3%, lebih panas dari perkiraan 0,2%.
Harga Bitcoin sempat jatuh ke $76.000 sesaat setelah laporan keluar. Namun, tekanan jual itu langsung diserap pasar dan Bitcoin melesat hampir ke $79.000 dalam waktu singkat, membukukan kenaikan total 3% dalam 24 jam terakhir.
Kenaikan Bitcoin mengangkat total kapitalisasi pasar kripto kembali mendekati level $2,7 triliun. Ethereum memimpin kelompok altcoin besar dengan kenaikan 7,48% ke level $2.611. Solana menyusul dengan tambahan nilai 4,53% dan kembali bertengger di atas $100. Di barisan lain, Zcash membukukan lonjakan 23,09% dalam sepekan terakhir.
Bursa saham Amerika Serikat mengamini tren positif yang sama. Indeks S&P 500 naik 1% dan Nasdaq bertambah 1,1%, setelah keduanya sempat melemah pada awal sesi perdagangan.
Rekor Obligasi dan Beban Harga Minyak
Berbeda dengan respons pasar kripto dan ekuitas, pasar surat utang menunjukkan ketegangan nyata. Yield obligasi 30 tahun menembus level tertingginya sejak Juni 2004 sebelum ditutup turun ke 5,309%. The Kobeissi Letter, platform analitik makroekonomi di X, merangkum situasi pasar dengan satu kalimat singkat: “Ini pasar yang gugup.”
Keresahan pasar timbul dari tekanan harga energi yang membebani ekonomi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tertahan di sekitar $100 per barel akibat pengaruh perang Amerika Serikat-Iran serta tekanan pasokan global.
Beban energi terlihat jelas dari rincian CPI Agustus. Sektor energi melonjak 16,3% yoy, didorong kenaikan bensin 27,4% dan minyak bakar 52%. Untuk inflasi bulanan, kenaikan bensin sebesar 3,9% menyumbang lebih dari sepertiga total lonjakan CPI. Sementara itu, inflasi inti bulanan didominasi tiket pesawat yang naik 2,7%, penginapan 2,4%, dan komunikasi 2,3%. Harga pangan juga mencatatkan inflasi 2,7% yoy.
Sinyal Kenaikan Suku Bunga Berikutnya
Rilis inflasi langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed. Peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat komite pasar terbuka 15-16 September mendominasi berbagai platform.
๐ Baca JugaLiquid Network Beku Usai 95% Cadangan Bitcoin Lenyap - Sementara Arus ETF Berbalik Jelang Rapat Fed
CME FedWatch menempatkan probabilitas kenaikan suku bunga di kisaran 69% hingga 85%. Pasar prediksi Polymarket memberi peluang 62%, selaras dengan Myriad yang mematok angka 61%.
Sinyal pengetatan moneter lanjutan sudah mulai terbaca dari internal The Fed sendiri. Pada pertemuan Juli lalu, tiga presiden The Fed regional menyatakan pendapat berbeda dengan mendukung kenaikan suku bunga. Pesan serupa datang dari Ketua The Fed Kevin Warsh saat berpidato di Jackson Hole, menegaskan bahwa bank sentral masih punya “pekerjaan yang harus diselesaikan” soal inflasi.
Bagi investor kripto, kondisi makro menegaskan masa suku bunga tinggi belum berakhir. Dinamika Bitcoin yang memantul cepat dari area $76.000 membuktikan kuatnya permintaan beli di harga bawah, terlepas dari bayangan kebijakan ketat pekan depan.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Sebelumnya: Bitcoin Sentuh $79.837 dan Nyaris Cetak Golden Cross - Tapi Data Inflasi AS Menggagalkannya
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




