BNB Chain kini memegang sekitar $1,5 miliar aset di platform tokenisasi Benji milik Franklin Templeton, menguasai 61,71% dari total nilai aset terdistribusi platform itu berdasarkan data RWA.xyz. Dominasi ini tercapai setelah jaringan itu mencetak kenaikan kepemilikan 1.226% dalam sebulan terakhir.
Arus dana itu mendepak Stellar dari posisi teratas. Pergeseran ini mengubah peta awal, mengingat Stellar adalah jaringan tempat Franklin Templeton pertama kali memulai strategi dana pasar uang berbasis blockchain pada 2021. Sebagai perbandingan, Franklin Templeton baru membawa platform Benji ke BNB Chain pada 2025. Langkah itu diambil untuk memberi manajer aset opsi memakai BNB Chain dalam urusan pemrosesan transaksi dan pencatatan kepemilikan. Di bawah dua nama besar itu, sisa porsi aset dipegang dalam jumlah yang lebih kecil oleh Base, Arbitrum, Avalanche, Polygon, dan Aptos.
Nilai platform Benji yang lebih luas ini berbeda dari portofolio spesifik token BENJI (Franklin OnChain U.S. Government Money Fund). Aset BENJI tercatat terpisah dan saat ini berada di angka sekitar $734,3 juta.
Jaring Kolateral Institusi
Langkah Franklin Templeton di sektor tokenisasi berjalan seiring dengan perluasan jangkauan likuiditas. Pada Juni 2026, mereka mengintegrasikan BENJI ke platform MoonPay Trade khusus untuk melayani transaksi klien institusi. Langkah ini bersanding dengan kemitraan bersama Kraken (Payward), yang menetapkan BENJI sebagai instrumen manajemen kas dan kolateral.
Fungsi jaminan ini juga merambah area di luar pasar terbuka. Melalui sebuah pengaturan terpisah dengan Binance, Franklin Templeton membuka jalur bagi institusi untuk memakai saham dana pasar uang tokenisasi mereka sebagai kolateral off-exchange. Di sisi produk, mereka menggandeng Ondo Finance guna membangun ETF tokenisasi yang berjalan murni dari dompet dan bisa diperdagangkan nonstop 24 jam.
📌 Baca JugaSaham Circle Anjlok ke $62 Ditekan Koalisi Visa dan BlackRock - Presiden USDC Menolak Mundur
Siapa yang Membangun Alat, Dia yang Menguasai Dana
Lompatan dominasi dari jaringan pionir ke ekosistem yang lebih muda memperlihatkan cara kerja aset korporat. Para manajer investasi tidak memarkir dana berdasarkan rekam jejak lama. Likuiditas akan selalu bermigrasi ke jaringan yang menjanjikan instrumen manajemen kolateral paling siap pakai.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




