Investigator blockchain ZachXBT memicu perdebatan setelah mengumumkan rencana untuk berhenti menerima permohonan bantuan dari korban kejahatan kripto di tujuh negara. Kanada, Inggris, India, Nigeria, Maroko, Aljazair, dan Bangladesh masuk dalam daftar wilayah yang kemungkinan besar tidak akan lagi mendapat layanan pelacakannya.
Keputusan ini tidak lahir dari ruang hampa. Sosok yang kerap membongkar jaringan peretas kripto ini beralasan bahwa permintaan dari ketujuh wilayah itu memberinya “pengalaman penanganan kasus terburuk” sepanjang kariernya. Berangkat dari rentetan kejadian tidak menyenangkan itu, ia berencana menerapkan penolakan otomatis untuk permohonan bantuan baru yang datang dari yurisdiksi terkait.
Blokir Akses di Platform Baru
Rencana pembatasan ini tampaknya akan berjalan berlapis. Saat ini ZachXBT diketahui sedang membangun sebuah platform web khusus, dan ia berniat membatasi akses layanan di situs barunya kelak dengan mengandalkan filter lokasi geografis penggunanya.
Sampai laporan ini diturunkan, sikap tegas ini baru berupa niat di atas kertas. Belum ada larangan aktif yang berlaku, situs web resmi yang dimaksud juga belum diluncurkan, dan aturan kelayakan tertulis belum pernah dipublikasikan. Kebijakan pemblokiran ini baru akan berlaku efektif saat infrastruktur bantuannya sudah siap digunakan.
Rekam Jejak di Kasus Kelas Kakap
Hilangnya akses ke bantuan ZachXBT menjadi perhatian serius mengingat ia punya riwayat panjang memecahkan kasus sulit. Belum lama ini, keahliannya terbukti saat ia turun tangan membantu mengurai modus penipuan social engineering. Kasus itu menelan kerugian minimal $65 juta dari sejumlah pengguna bursa Coinbase hanya dalam rentang waktu dua bulan.
๐ Baca JugaKripto Jadi Sarana Cuci Uang Perampokan Rumah di Prancis - Detektif Independen ZachXBT Berhasil Pulihkan $93.000
Pada insiden terpisah, ketajamannya melacak uang kripto juga teruji ketika sebuah aplikasi Ledger palsu berhasil mengelabui sistem. Perangkat lunak jebakan itu sukses merampas $9,5 juta dan memakan lebih dari 50 korban, sebelum akhirnya alur pencucian uangnya dibongkar oleh sang penyelidik.
Apa yang Tersisa untuk Korban?
Penting dicatat bahwa blokir ini murni untuk jalur bantuan pribadi milik ZachXBT. Kebijakan ini tidak menutup akses hukum formal bagi para korban eksploitasi kripto di negara-negara yang masuk daftar hitam.
Pemilik dompet digital yang dananya terkuras tetap memiliki hak dan dianjurkan untuk langsung melapor ke kepolisian lokal, pihak bursa, atau regulator terkait di wilayah masing-masing. Ketika ahli forensik independen sekelas ZachXBT mulai menutup pintu, beban penyelidikan mutlak kembali ke tangan otoritas resmi negara. Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




