Proyek token berbasis kecerdasan buatan Eliza kini tamat. Founder Eliza Labs, Shaw Walters, mendeklarasikan token Eliza mati dan mengonfirmasi bahwa yayasan pembina proyek ini memulai proses pembubaran. Keputusan ini merupakan buntut dari penyelesaian gugatan hukum yang menguras kas proyek. Seluruh sisa perbendaharaan atau treasury beserta semua dana yayasan kini diserahkan utuh kepada kelompok pemegang token.
Langkah penyerahan dana ini mengakhiri perselisihan hukum dengan Burwick Law. Firma hukum ini sebelumnya memotori gugatan class action federal di US District Court for the Southern District of New York pada April lalu. Dalam dokumen pengadilan, pihak penggugat menuduh proyek Eliza melakukan iklan palsu, praktik penipuan, misrepresentasi kelalaian, dan upaya memperkaya diri sendiri tanpa hak.
Mundur Karena Ongkos Pengadilan
Penyelesaian di luar pengadilan ini diambil bukan karena pihak Eliza mengaku bersalah. Walters bersikeras bahwa berbagai klaim hukum itu sama sekali tidak berdasar. Namun proyeknya terpaksa menyerah karena tidak mampu lagi menanggung biaya hukum untuk melanjutkan pertarungan di pengadilan.
Di tengah tekanan komunitas, Walters membela rekam jejak pribadinya dengan menegaskan ia tidak pernah menjual satu pun kepemilikan token ai16z miliknya. Ia juga mengaku selama ini hanya menerima gaji moderat, setara dengan upah yang diterima engineer lain di dalam tim pengembang.
Bagi para investor yang masih memegang token ini, opsi mereka makin menyempit. Walters memastikan pihaknya tidak punya rencana meluncurkan token baru sebagai pengganti Eliza. Pemegang token yang ada kini hanya disarankan untuk menjual aset mereka di pasar atau mengelolanya sendiri tanpa campur tangan yayasan.
Riwayat Gesekan Sejak Lahir
Kejatuhan dan pembubaran ini ibarat puncak dari rentetan masalah sejak awal proyek berdiri. Entitas ini awalnya meluncur pada Oktober 2024 di jaringan Solana dengan nama ai16z - beroperasi sebagai DAO investasi yang dikelola oleh AI. Kendala hukum pertama muncul saat firma modal ventura Andreessen Horowitz menolak keras penggunaan nama yang meniru merek mereka.
Keberatan ini memaksa tim melakukan rebranding besar menjadi ElizaOS pada awal 2025. Proses migrasi merek ini diwarnai dengan pembengkakan pasokan token dari 6,6 miliar menjadi 11 miliar keping, dengan sekitar 7,4 miliar keping yang beredar di pasar. Penambahan pasokan ini memicu reaksi negatif karena diklaim mendilusi nilai token milik pemegang lama, sebuah isu yang diduga menjadi pemantik ketidakpuasan awal.
📌 Baca JugaBlackRock Gandeng JPMorgan Tokenisasi Dana Eropa Senilai $311 Miliar - Incar Transfer Institusi 24 Jam Penuh
Apa yang Tersisa untuk Founder
Walau nasib token dan yayasannya hancur, arah teknologinya berbeda. ElizaOS, perangkat lunak open-source yang menjadi otak operasi proyek, akan terus berjalan. Walters mempertahankan hak pengembangan dan kontrol penuh atas kekayaan intelektual (IP) yang mendasari kerangka kerja kode itu.
Kas dan kendali token dikorbankan demi menyudahi urusan hukum, namun mesin teknologi intinya tetap aman di tangan sang pencipta.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




