Bursa perpetual terdesentralisasi berbasis Arbitrum, AFX Trade, kehilangan 24,15 juta USDC pada 22 Juli 2026 pukul 21:30 UTC. Penyerang menguras hampir seluruh total nilai terkunci (TVL) protokol ini tepat ketika volume perdagangan sedang naik tajam ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Firma keamanan Blockaid mendeteksi eksploit ini dan mencatat satu detail penting: kontrak pintar AFX Trade berjalan persis seperti desain aslinya. Penyerang tidak mengeksploitasi celah kode pada kontrak pintar, melainkan membobol kunci penandatanganan validator (hot keys) yang selama ini disimpan di luar rantai (off-chain).
Menurut pelacakan akun analitik on-chain @lookonchain di X, penyerang berhasil mengumpulkan lima tanda tangan validator. Angka ini pas untuk memenuhi kuorum dua pertiga yang diwajibkan oleh bridge demi menyetujui penarikan 24.150.000 USDC. Dana curian itu lalu dijembatani ke jaringan Ethereum dan ditukar menjadi 12.467 ETH pada harga rata-rata $1.937. Seluruh aset ini kini terpusat dan bersarang di satu dompet pelaku.
Bukan Salah Jaringan Arbitrum
Kepanikan sempat menjalar terkait keamanan dasar jaringan lapisan dua itu sendiri. Namun salah satu pendiri Offchain Labs dan Arbitrum, Steven Goldfeder, cepat menegaskan bahwa bridge bawaan Arbitrum sama sekali tidak diretas. Insiden ini murni kegagalan sistem pengamanan pada pihak ketiga yang membangun di atas jaringan mereka.
Rangkaian eksploitasi pada ekosistem Arbitrum belakangan tampak beruntun. Baru satu minggu sebelumnya, platform aset dunia nyata (RWA) bernama Ostium yang juga beroperasi di Arbitrum kehilangan $18 juta akibat eksploitasi oracle. Kejadian pada AFX Trade ini kian memperpanjang daftar hitam kuartal kedua 2026, yang kini tercatat sebagai salah satu periode terburuk untuk keamanan kripto.
Titik Buta Baru Bernama Off-Chain
Pola serangan AFX Trade mengingatkan pada peretasan Drift Protocol bulan April lalu yang menelan kerugian hingga $285 juta. Dalam kasus Drift, penyerang juga menghabiskan waktu berbulan-bulan demi mendapatkan akses istimewa ke sistem operasi, bukan bersusah payah meretas kode dasar protokol.
📌 Baca JugaKejahatan Fisik Kripto Naik 1.079% Menjadi $124 Juta - dan Pelakunya Kini Lebih Suka Mendobrak Rumah Anda
Rentetan pembobolan sepanjang tahun ini menunjukkan perubahan taktik peretas. Mayoritas serangan sekarang menyasar komponen off-chain, yang merupakan tempat kunci dan akses admin disimpan. Membangun sistem desentralisasi yang kebal peretasan pada lapis kodenya menjadi hal yang percuma jika kunci menuju brankas uang itu bisa direbut lewat celah web tradisional.
Peretas kini sadar bahwa titik lemah proyek kripto justru tertinggal di infrastruktur pendukungnya, bukan pada kerumitan teknologi blockchain itu sendiri.
Dilansir dari CoinDesk.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




