Intervensi bersama pertama antara Amerika Serikat dan Jepang sejak tahun 1998 akhirnya dieksekusi demi menopang nilai tukar yen yang jatuh ke level 164 per dolar, sebuah rekor pelemahan terburuk dalam 40 tahun terakhir. Bank of Japan diperkirakan menghabiskan dana hingga $36,6 miliar demi memborong mata uangnya sendiri. Di sisi lain, New York Fed ikut terjun ke pasar menjual euro, bukan dolar, atas nama US Treasury dengan mengandalkan Exchange Stabilization Fund. Hasilnya langsung terlihat: yen memantul ke angka 157,57 pada penutupan Jumat dan kembali stabil di sekitar 157 pada awal perdagangan Senin.
Di tengah guncangan valuta asing dua negara maju ini, Bitcoin membuktikan daya tahannya. Aset kripto terbesar ini kokoh di angka $63.600, mencatat kenaikan 1,8% dalam 24 jam terakhir. Sepanjang sesi wilayah Asia, harga Bitcoin mantap tertahan di $63.800 dan menyerap tekanan jual tanpa kemunduran berarti, mengabaikan pergerakan saham kawasan benua itu yang melaju tidak merata. Sementara itu, harga minyak dunia ikut naik di tengah sinyal campur aduk negosiasi antara AS dan Iran.
Bantuan yang Tak Datang Tiba-Tiba
Kerja sama dua negara ini telah direncanakan sebelumnya. Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menggelar pertemuan dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda di sela agenda G20 akhir Agustus lalu di North Carolina. Dalam pertemuan itu, Bessent mendorong perluasan fasilitas FIMA Repo, sebuah mekanisme andalan Federal Reserve untuk meminjamkan dolar ke lembaga asing memakai surat utang pemerintah AS sebagai jaminan. Perluasan jalur ini menjadi kabar positif bagi ketersediaan likuiditas dolar global.
Ekonom Mohamed El-Erian menggarisbawahi posisi rentan dalam skenario ini. AS kini memosisikan diri pada strategi yang kesuksesannya tak lagi berada di tangan mereka sendiri, melainkan bergantung penuh pada koordinasi para pembuat kebijakan di Tokyo. Ditambah lagi, besaran angka kontribusi AS dalam upaya intervensi pasar ini masih belum diungkap ke publik.
Ancaman Tersembunyi Penarikan Modal
Sinyal era suku bunga rendah Jepang berakhir kian benderang di papan bursa. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor dua tahun naik menembus batas 1,57% pada Senin. Meski begitu, selisih suku bunga Federal Reserve di level 3,50-3,75% dibandingkan ketetapan BOJ di angka 1% masih memadai untuk mendukung kelanjutan praktik carry trade.
📌 Baca JugaTambang Bitcoin Keluarga Trump Kantongi 8.002 BTC - Tapi Harga Sahamnya Justru Sentuh Titik Terendah
Bagi COO Bitget Wallet Alvin Kan, intervensi bernilai miliaran dolar ini lebih berfungsi sebagai rem darurat saat pasar kacau, bukan sebuah awal pemulihan yen yang berkelanjutan. Bahaya jangka panjangnya mengintai pada risiko pembongkaran carry trade. Jika para investor Jepang berbondong-bondong memulangkan modalnya ke dalam negeri, likuiditas finansial global bisa tersedot kering. Pada akhirnya, penyusutan uang beredar ini akan menekan pergerakan seluruh kelas aset berisiko, dan Bitcoin mau tak mau harus bersiap menghadapi dampak rambatannya.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




