Digital Asset Market Clarity Act kini terancam gagal di Senat AS karena satu isu tunggal: perdebatan yield stablecoin. Bank-bank besar melobi para senator dengan argumen bahwa membiarkan platform kripto membayar yield lebih tinggi dari deposito perbankan akan merusak sistem keuangan nasional.
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon terang-terangan menentang pelonggaran aturan ini. “Bank tidak akan menerimanya begitu saja. Kami akan melawannya. Kalau kami kalah, ya kalah,” ujarnya menanggapi isu bunga aset digital. Bunga tabungan di Chase saat ini mentok di 0,01%, jauh di bawah tingkat inflasi 3,4%. Angka ini kontras dengan kondisi dua dekade lalu, saat bunga simpanan masih di atas 4%.
Di kubu seberang, bursa kripto terus menarik dana masuk dengan menawarkan imbal hasil tinggi. Kraken dan Gemini berani memasang yield stablecoin mencapai lebih dari 3,75%, disusul Coinbase yang berkisar di level 3,5%.
Pola kontras inilah yang menyulut lobi perbankan di tingkat legislatif.
Celah Hukum yang Diperdebatkan
Akar perdebatan ini bertumpu pada undang-undang GENIUS Act yang berlaku saat ini. Aturan itu memang tegas melarang penerbit stablecoin menawarkan yield langsung kepada pemegang token. Namun, beleid yang sama masih menyisakan ruang abu-abu bagi platform exchange, memberi peluang bagi bursa kripto untuk tetap menyalurkan bunga kepada penggunanya.
Celah inilah yang memicu American Bankers Association (ABA) bermanuver. Asosiasi perbankan itu terus mendesak Kongres untuk memperketat bahasa anti-yield dalam draf Clarity Act agar ruang kompromi tertutup rapat. Sebaliknya, perwakilan industri kripto dari Crypto Council for Innovation menyatakan batas-batas persoalan ini sudah terkunci utuh dalam naskah legislasi, sehingga tidak perlu direvisi ulang.
๐ Baca JugaWorld Liberty Milik Trump Kantongi Izin Bank Bersyarat - Langkah Manuver Rebut Kendali USD1 dari BitGo
Tiga Minggu Penentuan Sebelum Pemilu
Buntut dari manuver lobi perbankan, peluang lolosnya Clarity Act kini makin kecil. Pengesahan rancangan undang-undang ini butuh 60 suara mutlak di Senat AS. Tapi beberapa senator Republik ternyata sudah berbelok arah dan memilih mendukung argumen kubu bank.
Nasib final RUU ini akan ditentukan pada tiga minggu terakhir bulan September, hanya selangkah sebelum pemilu sela (midterm elections) digelar.
Bagi pemilik modal ritel, perdebatan politis di Senat ini ujung-ujungnya merujuk pada hitungan matematika sederhana. Saat laju inflasi terus menggerogoti nilai uang tiap tahun, bertahan di imbal hasil 0,01% sama saja dengan menjamin kerugian - dan manuver lobi bank paling alot pun tak bisa mengubah realitas angka itu. Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




