Sejak Januari 2023, pembajakan kontrol menyebabkan kerugian hingga $3,31 miliar di seluruh ekosistem kripto. Data pelacak Lumos dari ChainLight itu dibagikan oleh co-founder Monad, Keone Hon, melalui panduan berjudul Crypto OpSec Bible. Nilai kerugian dari pengambilalihan kontrol ini jauh melampaui kerugian akibat celah keamanan smart contract pada rentang waktu yang sama, yang tercatat sebesar $983 juta.
Hon mendesak seluruh tim dan developer kripto untuk menempatkan keamanan operasional, atau OpSec, sebagai fokus utama. Peringatan ini disampaikan seiring maraknya penyerang yang kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengeksploitasi kelemahan di luar kode protokol.
Mengapa Pembajakan Kontrol Jauh Melampaui Celah Kode
Data Lumos memperlihatkan pergeseran pola risiko di industri kripto. Kategori pembajakan kontrol mencakup rekayasa sosial (social engineering), kebocoran kunci privat, peretasan akses akun, dan serangan rantai pasok (supply-chain attacks). Keempat jalur ini berfokus pada pengambilalihan hak akses pengelola, berbeda dari eksploitasi langsung pada celah kode smart contract.
Terkait wewenang administratif, Hon memperingatkan developer agar tidak mengandalkan externally owned accounts (EOA) untuk menjalankan peran administrator protokol. Untuk fungsi administratif penting, Hon merekomendasikan penggunaan laptop terdedikasi khusus yang disiapkan tersendiri saat menandatangani instruksi transaksi.
Menguji Protokol dengan Agen AI Ultrafuzz
Bersamaan dengan panduan OpSec itu, Monad Foundation merilis dan mempromosikan tool pengujian open-source bernama Ultrafuzz di GitHub. Perangkat ini dirancang untuk mendukung penelusuran kerentanan pada smart contract berbasis bahasa Solidity dan Vyper.
Pengembang Antonio Viggiano merancang Ultrafuzz dengan mengoordinasikan agen-agen AI khusus. Rangkaian agen ini bertugas memetakan alur pengguna, menyelidiki batas keamanan protokol, dan mengeksekusi strategi fuzzing - teknik pengujian dengan memasukkan variasi input untuk menemukan kerentanan sistem.
Sebelum dirilis terbuka ke publik, tool Ultrafuzz telah melalui lebih dari 20 putaran uji coba pada proyek-proyek di dalam ekosistem Monad.
Aturan Ketat Menjalankan Alat Tanpa Batas Izin
Meski ditujukan untuk memperkuat pertahanan kode, Monad memberikan instruksi ketat bagi siapa pun yang menguji Ultrafuzz. Tool ini hanya boleh dijalankan di dalam mesin virtual (VM) terisolasi dan sekali pakai.
๐ Baca JugaRecall Foundation Bubar dan Musnahkan 35% Pasokan Token - Kas $3,7 Juta Tak Dibagikan ke Pemegang Koin
Instruksi ini dikeluarkan karena agen AI di dalam Ultrafuzz beroperasi dengan izin tak terbatas. Pola operasi otonom itu berisiko jika dijalankan langsung di perangkat developer yang menyimpan kredensial atau kunci akses.
Bagi developer di ekosistem Web3, panduan dan alat baru ini menggarisbawahi dua sisi pengamanan: memanfaatkan agen AI untuk menguji kerentanan smart contract di ruang terisolasi, sembari membatasi akses peran administrator pada perangkat terpisah.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Uber Putar Kas Saat Pasar Tutup Akhir Pekan - Raih Imbal Hasil Ekstra 1,5 Hari Lewat Blockchain
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




