Kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara bertanggung jawab atas hampir 89% dari seluruh total kerugian akibat peretasan kripto global sepanjang 2026. Laporan analitik Chainalysis per 30 Oktober 2026 mencatat lonjakan tajam: pangsa 89% pada 2026 melesat 74 poin persentase dibandingkan pangsa kelompok itu pada tahun 2021 yang hanya sebesar 15%.
Skala kerusakan per insiden juga berlipat ganda. Rata-rata nilai kerugian per insiden serangan siber yang melibatkan Korea Utara pada 2026 naik sekitar 3,7 kali lipat dibandingkan tingkat kerugian rata-rata pada 2021. Terhitung sejak 2021 hingga akhir Oktober 2026, kelompok siber Korea Utara menggasak total $13,24 miliar dari akumulasi $22,34 miliar kerugian peretasan kripto global, atau setara dengan 59%.
Pada 2025, kelompok siber Pyongyang mencuri $2,02 miliar (naik 51% dari tahun 2024). Eksploitasi bursa Bybit sebesar $1,5 miliar pada Februari 2025 menjadi kontributor terbesar dari perolehan tahun itu.
Bagaimana Peretas Menyiapkan Pembobolan Binance
Taktik utama peretas bertumpu pada penyusupan pekerja teknologi informasi ke dalam entitas kripto, rekayasa sosial terhadap jajaran eksekutif, serta manipulasi infrastruktur penandatanganan transaksi dan kunci privat.
Dalam peretasan terbaru bursa Binance senilai $6,3 miliar, Chainalysis dan TRM Labs mengonfirmasi keterlibatan kelompok TraderTraitor. Keterlibatan ini terbukti setelah penyelidik melacak pencampuran langsung aset curian Binance dengan dana hasil pembobolan Bitget pada September sebelumnya.
TRM Labs mencatat persiapan serangan Binance dimulai setidaknya 36 jam sebelum eksekusi. Langkah awal dilakukan melalui penarikan kecil di Tornado Cash, pengujian kode serang, dan gladi resik dompet di 10 jaringan blockchain berbeda.
Pola Pencucian Otomatis Lewat Umpan 1 TRX
Setelah menguras dana korban, kelompok ini mengaburkan jejak lewat transaksi terprogram. Chainalysis menemukan pola pencucian otomatis di mana ribuan transaksi berputar di antara alamat dompet. Banyak alamat menerima transfer tepat 1 TRX terlebih dahulu sebelum meneruskan dana dalam jumlah besar.
๐ Baca JugaChainalysis Jadi Target Insiden Siber - Data Klien Bocor tapi Konten Investigasi Aman
Tekanan Sanksi Tiga Negara Ditepis Pyongyang
Aktivitas kejahatan siber lintas batas ini memicu sanksi multilateral dari Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa. Namun, tekanan diplomatik dan finansial itu langsung ditolak. Menanggapi sanksi multilateral dari tiga pihak itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara via KCNA pada 31 Oktober menegaskan tekanan sanksi tidak akan pernah mempan terhadap negara mereka.
Dominasi 89% kerugian ini mempertegas bahwa risiko terbesar industri kripto kerap bersumber dari celah manusia dan kelemahan tata kelola kunci privat. Bagi para pengelola platform maupun pengguna yang menaruh aset, kewaspadaan terhadap integritas tim internal dan mitigasi kustodi mandiri menjadi perlindungan nyata ketika tekanan diplomatik internasional tidak lagi dihiraukan.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




