Bitcoin turun dari level hampir $65.000 ke $63.200, mencatat penurunan 2,7% sejak penutupan pasar Amerika Serikat. Penurunan ini ikut menyeret altcoin utama seperti Ethereum, XRP, dan Solana ke zona merah, sementara likuidasi senilai $100 juta menyapu pasar kripto hanya dalam 60 menit terakhir menurut data WatcherGuru.
Katalis awal kepanikan ini bersumber dari Asia. Indeks saham KOSPI di Korea Selatan jatuh 10% dan menyentuh titik terendahnya sejak pertengahan April 2026. Angka ini menandai penurunan tajam 25% dari puncak tertingginya pada pertengahan Juni lalu. Kejatuhan mendadak ini memaksa Korea Exchange menarik tuas darurat lewat aktivasi circuit breaker level 1 pada pukul 10:13 pagi waktu setempat, tepat saat indeks KOSPI amblas 8,02% ke level 6.213,51. Ini merupakan penghentian perdagangan paksa kedelapan sepanjang 2026, sekaligus yang ke-14 dalam sejarah bursa Korea.
Titik Runtuh dari Sektor Semikonduktor
Pusat gravitasi dari kejatuhan KOSPI bertumpu pada dua perusahaan teknologi terbesarnya. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix turun serentak hingga 14%. Penurunan dua emiten ini memukul indeks dengan keras, mengingat keduanya menyumbang hampir setengah dari total bobot KOSPI. Para investor mulai membuang saham akibat kekhawatiran mengenai besaran skala dan beban pendanaan bagi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di masa depan, sebuah keraguan yang langsung menekan saham-saham sektor semikonduktor di bursa global.
Hubungan arah antara saham dan kripto dalam kondisi ini sempat memicu perdebatan. Analisis dari Bitfinex merinci bahwa pergerakan harga Bitcoin memang terikat pada ekuitas saat tekanan datang dari faktor makro ekonomi atau suku bunga. Namun, korelasi itu umumnya terputus dan Bitcoin mampu melepaskan diri dari tren ekuitas saat sentimen negatif bersifat spesifik, seperti perdebatan soal pengeluaran modal AI kali ini.
Menuju Puncak Ketegangan Pekan Ini
Di luar kepanikan bursa Asia, ketidakpastian dari meja regulasi dan kebijakan moneter AS ikut menambah beban pasar. Senat AS baru saja menunda pemungutan suara untuk CLARITY Act demi mendahulukan rancangan undang-undang sanksi Rusia. Penundaan ini membuat celah waktu pengesahan regulasi kripto makin sempit, hanya menyisakan hari-hari terakhir sebelum masa reses parlemen dimulai pada 8 Agustus mendatang.
📌 Baca JugaBitcoin Tembus $65.000 Saat Perang AS-Iran Jeda - Ujian Sesungguhnya Jatuh pada 28 Juli
Perhatian para pelaku pasar kini tertuju penuh pada hari Rabu, saat bank sentral AS dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya. Sehari setelahnya, data inflasi Core PCE dan GDP akan dirilis pada hari Kamis. Rangkaian agenda makro ini membentuk jendela volatilitas paling krusial untuk minggu ini. Laporan WatcherGuru mencatat bahwa lembaga keuangan Citadel Securities justru memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada minggu ini - sebuah langkah kejutan yang berlawanan dengan ekspektasi penurunan suku bunga. Laporan terpisah dari Yahoo Finance juga mengutip para analis yang sepakat bahwa pergerakan arah skala besar bagi Bitcoin sudah berada di depan mata. Penurunan tajam hari ini bisa jadi merupakan bentuk antisipasi pasar sebelum keputusan sesungguhnya diketuk pertengahan minggu nanti.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




