Dua perangkat lunak klien utama Ethereum bergerak cepat menutup celah keamanan pada jalur komunikasi validator. Pengembang klien konsensus Teku meluncurkan versi 26.10.3 pada 27 Oktober 2026, menyusul langkah klien eksekusi Besu yang merilis versi 26.10.2 pada 26 Oktober 2026. Kedua rilis mendesak ini mencabut status kepercayaan terhadap sertifikat digital terbitan eMudhra, otoritas sertifikat asal India, dari citra Docker yang lazim digunakan operator node Ethereum.
Langkah pencegahan ini diambil guna memutus risiko pemalsuan koneksi HTTPS yang menghubungkan validator dengan jaringan luar.
Kunci Privat yang Bisa Dipulihkan Matematis
Celah keamanan bermula dari kelemahan kriptografi pada delapan otoritas sertifikat perantara (intermediate certificate authority) milik eMudhra. Kunci privat pada sertifikat perantara itu dibuat dengan tingkat keacakan yang tidak memadai. Akibat kelemahan itu, pihak luar dapat memulihkan kunci privat rahasia melalui kalkulasi matematis langsung dari sertifikat publik yang beredar.
Peneliti keamanan menemukan cacat kriptografi itu pada 17 Oktober 2026. Merespons temuan ini, eMudhra mencabut sertifikat perantara bermasalah pada 18 Oktober 2026. Microsoft juga mengambil tindakan dengan memblokir otoritas sertifikat eMudhra melalui pembaruan sistem operasi Windows pada 20 dan 26 Oktober.
Kenapa Sistem Java Gagal Mendeteksi Pencabutan
Langkah pemblokiran oleh eMudhra dan Microsoft belum otomatis mengamankan ekosistem node Ethereum. Teku dan Besu berjalan di atas lingkungan Java, sistem yang secara default tidak memeriksa status pencabutan sertifikat. Pengaturan bawaan Java membuat instalasi node rentan tetap menganggap sertifikat eMudhra sah, kendati otoritas penerbitnya sudah membatalkan status sertifikat itu.
Kelemahan dalam penyaringan sertifikat memungkinkan penyerang yang menguasai kunci privat memalsukan identitas jaringan. Melalui sertifikat palsu, peretas berpeluang menyamar sebagai beacon node jarak jauh (remote beacon node) dan mencegat aliran informasi menuju validator.
Ancaman Pengalihan Imbalan Blok
Jika penyerang berhasil menempatkan diri sebagai beacon node jarak jauh palsu, mereka dapat mengirimkan informasi blok yang sudah dimanipulasi kepada validator. Manipulasi ini membuka peluang bagi peretas untuk membelokkan imbalan blok baru dan biaya transaksi langsung ke alamat dompet milik mereka sendiri.
Jalur serangan lain menyasar layanan penandatangan eksternal (external signing services). Penyerang yang memalsukan sertifikat berpotensi mencuri tanda tangan keluar validator (validator exits), yang dapat memicu penghentian validator dari proses staking tanpa izin pengelolanya.
๐ Baca JugaENSv2 Resmi Meluncur di Mainnet Ethereum - Domain Lama Tak Perlu Daftar Ulang, tapi Aturan Subname Berubah
Pengembang Teku menegaskan konfigurasi bawaan pada jaringan utama (mainnet) tidak terdampak langsung oleh celah ini. Sampai sekarang, tim pengembang juga belum menerima laporan eksploitasi aktif di jaringan publik. Bagi para operator node yang menjalankan Teku atau Besu dengan konfigurasi khusus, memperbarui perangkat lunak ke versi terbaru menjadi langkah penting agar validator terhindar dari koneksi manipulatif.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Kerja Staking Kripto dan Risikonya
Baca juga: Bitmine Tinggal Butuh 58.000 ETH untuk Target 5% - Belanja Saham Sendiri Mulai Jadi Pilihan
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




