Tether mencatat laba operasi bersih $1,5 miliar pada kuartal kedua 2026. Angka ini naik hampir 50% dibandingkan pendapatan mereka di kuartal pertama. Suku bunga obligasi jangka pendek pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang masih tinggi menjadi motor utama pendapatan ini. Portofolio obligasi ini konsisten menyumbang bagian terbesar dalam profitabilitas kuartalan perusahaan.
Hingga penutupan buku akhir Juni, jumlah USDT yang beredar di pasar menembus angka $184,6 miliar, bertambah $446 juta dari posisi akhir Maret. Pencapaian ini menjadi pembeda di tengah kondisi pasar kripto. Pangsa pasar USDT naik melewati ambang batas 60%, mengokohkan posisinya justru ketika volume keseluruhan pasar stablecoin global sedang menyusut di kuartal yang sama.
Cadangan Menggemuk, Pinjaman Dipangkas
Kunci besarnya laba Tether terletak pada komposisi aset jaminan mereka. Sebagian besar cadangan jaminan USDT diisi oleh US Treasuries jangka pendek, perjanjian pembelian kembali (repurchase agreement), dan aset pemerintah lain yang likuid. Strategi mengumpulkan obligasi ini menempatkan Tether di daftar salah satu entitas pemegang US Treasury terbesar di dunia.
Tidak hanya instrumen kertas, perusahaan ini juga terus memborong aset keras. Sepanjang kuartal kedua, Tether menambah 14 metrik ton emas fisik ke dalam brankas mereka. Pembelian terbaru ini membawa total cadangan emas fisik perusahaan melampaui 146 metrik ton. Penambahan aset ini berdampak langsung pada bantalan keuangan mereka: surplus cadangan, yang dihitung dari total aset dikurangi liabilitas, tumbuh ke angka $4,11 miliar per 30 Juni.
Di saat tumpukan emas dan obligasi membesar, Tether memilih mengerem eksposur risiko di sektor pinjaman. Mereka memangkas aktivitas pinjaman beragun (secured lending) sebesar $2,38 miliar, sebuah pemotongan beban sebesar 15% dari total portofolio kredit mereka dalam satu kuartal.
Menghindari Saham AI yang Melambung
Dengan arus kas masuk yang deras, arah investasi Tether mulai dipertegas. CEO Tether, Paolo Ardoino, mengatakan bahwa perusahaannya mengalokasikan investasi ke teknologi perluasan akses keuangan dan AI untuk populasi yang kurang terlayani. Mereka menolak ikut memburu saham-saham perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang valuasinya sedang melambung di bursa publik.
📌 Baca JugaBank Sentral Italia Uji Kirim 200 USDC ke 5 Negara - Biayanya Tembus 9% Karena Satu Faktor
Sikap Ardoino memperlihatkan preferensi penerbit stablecoin ini untuk mendanai infrastruktur yang relevan dengan visi mereka. Di saat banyak entitas meraup untung dari euforia pasar saham, Tether memilih mengunci modal di instrumen jangka pendek yang aman dan proyek teknologi riil. Pilihan ini menjadi contoh nyata bagaimana pengelola cadangan $184 miliar menempatkan uangnya di tengah ketidakpastian pasar yang luas.
Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




