Dua akun perdagangan di bursa desentralisasi Hyperliquid memasang order kontrak perpetual minyak senilai lebih dari $170 juta hanya untuk membatalkannya berulang kali. Temuan firma kepatuhan Solidus Labs bersama data Lookonchain menunjukkan aktivitas itu berlangsung antara 8 hingga 10 Maret, saat pasar energi sedang bergejolak. Lewat pola yang diduga sebagai praktik spoofing, kedua akun diperkirakan mengantongi keuntungan sekitar $119.000, atau setara Rp1,87 miliar, dalam rentang waktu tiga hari.
Yang membuat manuver ini disorot bukan sekadar nilai pasarnya, melainkan perbandingan timpang antara pesanan yang dipajang dan yang benar-benar dieksekusi.
Rasio Batal 30 Kali Lipat
Pola yang dijalankan kedua akun bertumpu pada manipulasi buku pesanan (order book). Pelaku memasang order dalam jumlah besar di satu sisi pasar, lalu membatalkannya berulang kali sebelum tersentuh lawan transaksi. Di saat yang sama, pesanan mereka di sisi berlawanan justru tereksekusi.
Solidus Labs mencatat perbandingan nilai pesanan yang dibatalkan mencapai sekitar 30 kali lipat dibanding volume order riil yang terisi. Pada 9 Maret, misalnya, salah satu akun membatalkan order jual senilai sekitar $17 juta. Bersamaan dengan penarikan order itu, akun yang sama mengeksekusi pembelian riil senilai $425.000.
Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas Amerika Serikat (CFTC) melarang keras praktik spoofing sejak menerbitkan panduan pada 2013. Aturan itu mendefinisikan spoofing sebagai tindakan memasang order dengan niat membatalkannya sebelum terjadi eksekusi, dengan tujuan memanipulasi persepsi likuiditas pasar.
Tanggung Jawab Deployer dan Aturan Slashing
Pihak Hyperliquid Labs menyatakan seluruh transaksi, pembatalan order, serta posisi pedagang tercatat transparan di atas blockchain. Karena berjalan di jaringan onchain, data pasar terbuka untuk diawasi oleh publik maupun regulator.
Berdasarkan dokumentasi Hyperliquid, pasar HIP-3 dijalankan oleh deployer independen. Pihak deployer ini yang berwenang menetapkan parameter leverage, oracle harga, batas risiko, hingga menghentikan perdagangan dan menyelesaikan posisi terbuka jika mendeteksi kejanggalan.
Selain wewenang deployer, protokol Hyperliquid memuat sanksi pemotongan (slashing) token HYPE. Hukuman ini disiapkan bagi validator serta deployer yang membiarkan manipulasi pasar atau melanggar keandalan sistem.
๐ Baca JugaSurat Utang AS Dijadikan Agunan di Avalanche - Pemiliknya Tetap Terima Bunga Berjalan
Bagi pelaku pasar di bursa desentralisasi, transparansi buku pesanan onchain memang mempermudah pelacakan jejak transaksi, tetapi ketegasan deployer dalam mengawasi parameter risiko tetap menjadi penentu utama agar likuiditas tidak dipermainkan.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: Chainlink dan Anchorage Rilis CustodySync - Buka Pinjaman DeFi Tanpa Pindahkan Aset Kustodi
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




